Menanti
Cinta Diva
“
Kriiingg Kring “ telepon rumah Agra berbunyi. Bunyi itu membangunkan tidur Agra
yang sudah terlelap dari jam 12 malam. Setiap pagi memang selalu ada telepon.
Tak lain dan tak bukan, itu adalah telepon dari orang tua Agra yang ada di luar
negeri. Orang tua Agra bekerja sebagai pengusaha di luar negeri. Agra hanya
tinggal sendiri di rumah gedong milik orang tuanya sejak 3 bulan yang lalu.
Sejak saat itu, orang tua Agra selalu menelepon Agra untuk membangunkannya
tidur. Sebenarnya Agra tak tahan jika hanya tinggal sendiri, tapi mau bagaimana
lagi. Jika orang tua Agra tidak bekerja, bagaimana cara Agra untuk kuliah.
“
Iya, Ma, “ kata Agra mengangkat telepon, “ Agra udah bangun. “
Agra
kembali ke kamarnya untuk mandi. Dengan rasa malasnya, ia membersihkan
badannya. Hari ini, kelas Agra masuk pukul 7 pagi. Jarak rumah dengan kampusnya
sekitar 15 menit. Karena lumayan dekat, Agra selalu santai jika berangkat kuliah.
Setelah selesai mandi, Agra berangkat ke kampusnya dengan mobil mewahnya,
hadiah ulang tahun ke 17 dari orang tuanya dulu. Dalam perjalanan menuju ke
kampusnya, ia mencari sarapan terlebih dahulu untuk ia sendiri. Seperti itulah
kebiasaan Agra setiap pagi setelah ia ditinggal orang tuanya bekerja di luar
negeri. Agra selalu merasa kesepian. Namun saat di kampus nanti, Agra tak akan
bersedih. Ia tak akan memperlihatkan kesedihannya kepada teman-temannya. Sampai
di warung makan sederhana, Agra memesan makanan kesukaannya. Warung makan yang
berjarak 2 km dari rumah Agra itu adalah langganan Agra. Sampai si pemilik
warung hafal dengan makanan yang setiap hari dipesan Agra. Dengan lahapnya,
Agra makan sepiring makanan 4 sehat dengan segelas susu.
Sesampainya
di kampus, Agra memarkirkan mobilnya di parkiran mahasiswa. Tiba-tiba ada seseorang
yang menepuk pundaknya.
“
Tumben bro udah berangkat? “ kata Devan. Devan adalah sahabat baik Agra dari SMP.
Dari SMP, SMA dan sekarang kuliah mereka selalu sekelas. Devan dan Agra sudah seperti
kakak-adik.
“
Iya, tadi gue bangun pagi “ ucap Agra.
“
Kayaknya hari ini lo kelihatan nggak semangat?? “ tanya Devan yang merasa Agra
terlalu letih untuk pagi ini.
“
Gue nggak apa-apa kok. Tadi malem gue lembur tugas buat hari ini. Jadinya
ngantuk “ jawab Agra, mengelak. Ia tidak mau kalau orang disekitarnya tahu
tentang kesedihannya pagi ini. Ia berusaha untuk tetap bersikap seperti
biasanya.
Agra
dan Devan menuju ke kelasnya. Walaupun masih jam setengah tujuh pagi. Mereka
memilih datang lebih awal daripada telat. Jam pertama hari Senin itu adalah jam
dosen paling ontime. Jadi, kalau nanti telat satu menit pun, ia tidak akan
diperbolehkan mengikuti mata kuliah itu.
***
Akhirnya,
jam dosen ontime itu usai. Agra dan seluruh teman dikelasnya tenang. Selain
ontime, dosen itu juga killer dan disiplin. Kalau tugas darinya tidak
dikerjakan satu nomer pun, nilai mata kuliah itu tidak bakal dikeluarkan. Maka
dari itu, Agra rela lembur semalaman untuk tugas yang diberikan minggu lalu.
“
Gue punya kabar baik buat lo, Gra “ kata Devan.
“
Udah, lo nggak usah ngehibur gue “ ucap Agra.
“
Gue nggak bohong, ini emang kabar baik “
“
Gue mau ke perpus dulu aja. Buku yang gue pinjem udah nunggak seminggu. Udah
denda lagi, “ kata Agra. “ gue duluan. “
Agra
meninggalkan Devan. Ia bergegas ke perpustakaan. Agra memang termasuk mahasiswa
yang tak pernah absen ke perpus. Walaupun hanya seminggu sekali.
“
Agra “ sapa seseorang yang berpapasan dengan Agra di depan perpustakaan.
Seorang wanita berjilbab berparas cantik nan menawan. Senyum manisnya
memancarkan aura seorang muslimah.
“
Diva? “ tanya Agra terkaget-kaget. “ Ini benar kamu?? “
Agra
tidak percaya dengan apa yang ada di depannya. Wanita itu ternyata memang Diva,
Diva adalah ‘teman baik’ Agra. Mau dibilang pacar, mereka sudah break sejak 2
tahun yang lalu. Mereka pacaran sejak 4 tahun lalu. Tapi sejak 2 tahun lalu,
sebelum Diva pergi ke Singapura, ia meminta untuk break pada Agra. Agra tak
tahu apa alasannya, alasan yang diberikan Diva sangatlah tidak jelas. Ia hanya
menerima saja keputusan Diva itu. Hanya satu yang membuat Agra masih sangat
mengharapkan Diva untuk kembali ke pelukannya, Diva pernah bilang kalau ia akan
kembali dan akan menjadi pacar Agra kembali. Tapi apa mungkin?? Setiap pasangan
kalau sudah break, mereka tak akan bersatu lagi. Sejak saat itu, status Agra
seperti digantung.
“
Aku emang Diva “ ucap Diva memperjelas dan kemudian tersenyum.
“
Kamu kapan pulang?? “ kata Agra.
“
Udah dari seminggu yang lalu. Kemarin Jumat aku ketemu Devan. Emang dia nggak
cerita sama kamu?? “
“
Devan nggak pernah ngomong soal kamu. Kamu apa kabar?? “ tanya Agra yang
terlihat sudah senang kembali.
“
Teeettt teettt “ suara klakson sebuah mobil yang berhenti di depan
perpustakaan. Mobil itu mobil jemputan Diva. Terlihat seorang pria berjas
berada di kursi sopir mobil itu.
“
Maaf, Gra. Aku harus pulang dulu. Udah dijemput. Kalau mau ngehubungin aku
lewat nomor aku yang dulu aja. Masih aktif kok “ pamit Diva. Diva segera
meninggalkan Agra.
Agra
tertegun sendiri di depan perpustakaan. Ia masih memikirkan Diva yang tiba-tiba
hadir didepannya. Berkali-kali ia mencubit pipinya untuk percaya bahwa ini
bukan mimpi. Selama beberapa bulan pertama, ia merasakan kehilangan yang sangat
dalam. Sampai sekarang, di saat ia sudah mulai melupakan, Diva kembali
dikehidupannya. Kemudian Agra berlari kembali ke fakultasnya untuk menemui
Devan yang sedang makan di kantin.
“
Van, kenapa lo nggak pernah kasih tau gue? “ kata Agra yang masih
terengah-engah.
“
Kasih tahu soal apa, Gra?? “ tanya Devan yang kemudian berdiri dari duduknya.
“
Kenapa lo nggak pernah kasih tahu soal Diva yang udah ada di Indonesia?? “ Agra
mulai marah dengan Devan.
“
Gra, berkali-kali gue berusaha buat kasih tahu lo. Tapi lo nya yang nggak
pernah mau tahu apa yang mau gue omongin. “ jelas Devan, “ Jumat malam gue
berusaha telpon lo, tapi nggak ada jawaban dari lo. Tadi gue mau ngomong
langsung sama lo, tapi lo nggak mau dengerin gue. “
Agra
meninggalkan Devan yang berada kantin. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Yang ia pikirkan sekarang, ia hanya ingin sendirian. Agra menuju ke sebuah
taman deket kampusnya. Taman itu adalah taman yang selalu digunakan Agra untuk
membuang penatnya. Selain itu, taman itu juga menjadi tempat favorit Agra dan
Diva dulu sewaktu pacaran. Agra merasa ini ujian terberat untuknya. Ternyata
tak ada seorangpun yang mau untuk menemani Agra di saat seperti itu. Agra hanya
melamum sambil melemparkan kerikil kecil ke kolam taman itu. Sesekali ia hanya bergumam
sendiri.
“
Gue heran. Kenapa hidup gue kayak gini??Orang tua pergi, gue dirumah sendirian,
digantungin cewek, sekarang sahabat gue sendiri nyembunyiin sesuatu yang gue
anggap penting “
“
Gra “ sapa Devan yang datang menyusulnya.
“
Ngapain lo nyusul gue?? “ kata Agra.
“
Gue minta maaf kalau emang gue punya salah sama lo. Gue nggak bermaksud buat
nyembunyiin semua ini “
“
Udah, Van. Lo nggak usah minta maaf. Mungkin gue yang terlalu berprasangka
buruk sama lo “
“
Sekarang lo mau gimana sama Diva?? “ tanya Devan.
“
Gue nggak tahu, Van. Gue cuma pengen sendirian.“ jawab Agra sambil beranjak
dari tempatnya duduk, “ Gue pulang dulu. “
Teriknya
siang itu mengantarkan Agra pulang ke rumah. Siang itu memang terlalu panas. Panas
matahari terlalu meyengat bumi. Agra kembali ke rumah dengan hati yang masih
galau tentunya.
***
Diva
melepas sepatunya, ia merasa pusing siang itu. Ia membaringkan tubuhnya ke
ranjang dengan sprei berwarna hijau. Ia mengeluarkan surat dokter yang barusan
didapatkannya dari periksa di rumah sakit. Diva memikirkan penyakitnya yang
ternyata masih menjalar di tubuhnya. Ia juga berfikir tentang Agra. Diva ingat
dengan buku diary-nya yang tersimpan di kotak coklat yang diletakkan di bawah
ranjang. Ia membaca lembar demi lembar buku diary-nya itu. Ternyata ada satu
foto yang terselip ditengah buku itu. Itu adalah foto Agra.
“
Gra, maaf kalau aku nggak pernah cerita soal ini. Aku nggak mau kamu ikut
merasakan kesakitan ini “ kata Diva yang berbicara dengan foto Agra.
“
Diva, makan dulu. Mama udah siapin makanan kesukaanmu “ kata Mama sambil
membuka pintu kamar Diva.
“
Iya, Ma “
Diva
dan Mamanya menuju meja makan untuk makan. Diva hanya tinggal dengan Mamanya.
Papa Diva telah meninggal sejak Diva masih kecil karena sakit kanker yang
menyerang otaknya. Penyakit itu juga pernah mampir ditubuh Diva. Sebenarnya,
dua tahun lalu Diva pergi ke Singapura karena penyakit yang sama dengan papanya
itu. Sekarang, penyakit itu masih ada di dalam tubuhnya. Untuk mencegahnya
menjalar ke seluruh tubuh, ia harus rajin untuk kemoterapi.
“
Kapan kamu mau kemo lagi?? “ tanya Mama.
“
Besok aja, Ma. Aku males kalau harus bolak-balik ke rumah sakit. Lagian,
trakhir kan dokter bilang kalau aku udah 95% sembuh. Mama nggak usah khawatir “
ucap Diva. Diva berusaha untuk menenangkan Mamanya. Ia tak mau menceritakan
yang sejujurnya tentang surat dokter terbaru yang baru didapatkannya.
“
Kriingg Kring “ HP Diva tiba-tiba berbunyi. Itu adala telpon dari Agra.
“
Halo “ ucap Agra dari belakang telpon.
“
Halo, Gra “ jawab Diva.
“
Aku bisa ketemu kamu malam ini “
“
Maaf, Gra. Aku nggak bisa kalau malam ini. Aku udah ada acara malam ini “
Diva
menutup telpon dari Agra itu. Diva merasa tak pantas kalau memberi harapan
kosong lagi pada Agra. Diva berbohong untuk kebaikan mereka berdua.
Di
sisi lain, Agra mengerti kalau Diva sudah benar-benar tidak mengharapkannya
lagi. Mulai saat itu, Agra memutuskan
untuk melupakan Diva.
***
Pagi
ini, mentari bersinar hangat. Burung-burung berkicauan menyambut pagi yang
indah ini. Agra beraktivitas seperti biasanya. Hari ini, terasa lebih berat
dari hari kemarin buat Agra. Dalam perjalanan Agra ke kampus, Agra melewati
Diva yang sedang menghadang kendaraan di sebuah halte.
“
Diva, ayo naik ! “ kata Agra dari dalam mobil.
“
Nggak usah, Gra. Aku nunggu taksi aja “ ucap Diva. Tiba-tiba Diva pingsan
begitu saja. Agra segera membawanya ke rumah sakit.
Hari ini, Agra mengurungkan niatnya untuk
kuliah. Ia memilih untuk menunggu Diva di rumah sakit. Saat keluar dari UGD,
dokter memberi tahu Agra kalau masih ada beberapa sel kanker yang ada dalam
otaknya. Mulai saat itu, Agra tahu kalau Diva terkena penyakit kanker.
“
Diva, kenapa kamu nggak cerita soal penyakit kamu ini?? “ tanya Agra.
“
Penyakit apa, Gra? “ ucap Diva yang kekeuh ingin menutupi penyakitnya itu.
“
Kamu nggak usah ngelak lagi. Dokter udah kasih tahu aku. “ ucap Agra, “
Jangan-jangan kamu menjauh dari aku gara-gara penyakit kamu ini?? “
“
Maafin aku, Gra. Aku nggak bermaksud buat nutupin ini semua. Aku cuma nggak
pengen kalau kamu ikut sedih gara-gara ini. Makanya aku lebih baik merasakan
ini sendiri “ jelas Diva.
“
Diva, aku masih sayang kamu. Jujur, aku belum bisa ngelupain kamu. Sampai saat
ini aku masih mengharapkan kamu biar bisa jadi pacar aku lagi. Aku nggak peduli
bagaimana keadaan kamu. Aku cuma ingin mencintaimu apa adanya. Plis, tolong
jangan tolak aku “
“
Iya, Gra. Aku juga masih sayang sama kamu “
Akhirnya,
Diva memilih untuk kembali kepada Agra. Mereka kembali berpacaran. Walaupun
mereka tidak tahu sampai kapan hubungan itu akan bertahan. Mereka hanya
berharap suatu keajaiban akan muncul untuk penyakit Diva itu.
*end*
This entry was posted
on Kamis, 12 Desember 2013
at 06.01
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
