“ Tulilit…..Tulilit…….Tulilit “ Nokia ku berbunyi, membangunkan aku dari
tidur lelapku semalem. Pertanda ada telepon tu, dari siapa ya pagi-pagi gini??
“ Halo “ kataku sambil berusaha membuka
mataku yang masih ke lem oleh kotoran mata tentunya.
” Halo juga. Lo, kamu baru bangun?? Hari ini
kan ada ulangan jam pertama. Lekas ke sekolah gih ” kata si penelepon yang
ternyata itu Bara, sahabatku sampai sekarang. Kemana-mana kami selalu berdua.
Kata orang kami kayak gay.
Tapi perkataan itu nggak kami dengerin. Yang pasti kami masih normal.
” Ya ” kataku yang kemudian menutup telepon
itu.
Sesegera mungkin aku mandi dan langsung
berangkat ke sekolah dengan Blade item ku. 120 km/jam menjadi
kecepatanku, biar aku sampai sekolah nggak telat. Kalau sampai telat, bakalan di
marahi abis-abisan aku ma guru kimiaku yang terkenal killer itu. Dan yang pasti aku harus ikut
ulangan susulan. Daripada itu terjadi, lebih baik aku ngebut. Semoga aja aku
bisa mengejar waktu 15 menit untuk sampai di sekolah.
Huahh, syukur deh. Alhamdulillah, aku sampai
di sekolah lebih cepet dari perkiraanku. Langsung aja aku menuju kantin, beli
makan, paling enggak perutku terisi sebelum masuk sekolah.
” Heh Bro ” seseorang pegang bahuku, Bara
ternyata.
” Kamu sob ” kataku.
” Udah belajar belum?? Katanya kelas lain,
ulangannya susah lho ”
” Udah dikit. Kan ada kamu, sahabatku ”
ucapku yang kemudian tertawa. Biasanya kalau ada ulangankan, aku selalu
memanfaatkan Bara. Dia kan pinter, nggak ada salahnya donk??
Beberapa menit kemudian, bel masuk memanggil.
Padahal soto yang aku pesan masih banyak. Yaudah lah, mau apa lagi. Aku dan
Bara bergegas ke kelas dan meninggalkan semangkok soto yang tadi aku pesan.
Selain killer guru kimiaku ini juga sangat
menghargai waktu. Nggak pernah deh telat lebih dari 5 menit, selalu ontime. Jadi, daripada kena
semprot aku tinggalin aja soto ku.
” Semua buku masukkan. Silahkan absen 1
sampai 20 ulangan duluan. Dan 21 sampai 40 keluar untuk ulangan nanti jam kedua
” kata guruku. Gawat ne, aku kan absen 24, berarti aku nggak bareng ulangannya
ma Bara. Bara kan absen 5. Nggak biasanya ulangan kimia di bagi jadi 2. Tapi yaudah
lah. Terima aja, dan siap-siap aja buat dapat nilai buruk.
* * *
“ Hadu, susah banget ulangannya. Bakalan
dapat nilai jelek aku. Dan yang pasti, bokap nyokapku akan marah juga ” kataku
pada Bara saat di kantin yang sedang dipenuhi khalayak.
” Makanya, aku tadi kan udah bilang. Kamu sih
yang nggak mau dengerin omonganku ” ucap Bara.
Tiba-tiba sesosok makhluk manis nan cantik
datang menghampiri meja kami. Itulah Reta, cewek yang udah 2 tahun aku pacarin.
Sungguh-sungguh cantik dia. Aku beruntung dia memilih aku untuk jadi pacarnya.
Walaupun banyak perbedaan kami yang rasanya sangat berlawanan. Salah satunya,
aku bodoh dan dia pinter, buktinya semester lalu dia meraih juara umum. Bara
aja kalah. Tapi apalah aku ini, nilai semester juga pas-pasan, nilai ulangan
kadang baik kadang jelek. Namun semua itu sirna dan nggak pernah jadi masalah
buat kami. Kami selalu menerima apa adanya.
” Hei, Marloku. Hei, Bar ” kata Reta sambil
tersenyum manis.
” Hei, Sayang ” kataku.
” Hei, Ta. Daripada aku ganggu, lebih baik
aku pergi aja dari sini. Aku ke kelas dulu ya ” ucap Bara yang kemudian pergi
dari kantin.
” Lo, aku mau ngomong ” katanya.
” Ngomong aja ”
” Akhir tahun ajaran ini aku akan pergi ”
” Pergi kemana?? ” kataku yang masih merasa
tenang.
” Aku akan tinggal dengan orang tuaku di
Eropa ”
” Cuma selama liburan aja kan?? Nggak masalah
”
” Aku bakalan kuliah di sana ” katanya yang
kemudian meninggalkan aku di kantin.
Aku kaget ketika mendengar kata-kata itu dari
mulut Reta. Apa aku mimpi?? Nggak mungkin, ini jelas-jelas nyata. Kata-kata itu
sungguh memasung syarafku. Pernah aku ngomong ma Reta, aku nggak kuat kalau
harus long distance.
Kenapa dia tega mau ninggalin aku?? Padahal akhir tahun ajaran ini kan kurang 1
bulan lagi. Jadi, hanya dalam waktu 1 bulan ke depan aku bersama dia?? Mana
tahan aku. Dan nggak mungkin kalau aku harus putus sama dia. Aku sayang banget
sama dia. Apa yang harus aku lakukan?? Apalagi Reta nggak jelasin kenapa dia
akan tinggal di sana??
Tak selang beberapa saat, bel tanda masuk
mengantarkan aku menuju kelasku. Sampai pulang sekolah aku nggak konsen
mengikuti pelajaran hanya memikirkan Reta akan pergi.
* * *
Pagi yang indah, hari yang cerah, namu pusing
menghinggapi kepala ku. Pasti gara-gara aku memikirkan Reta. Walaupun pusing,
tapi aku harus tetap sekolah. Aku nggak mau nyia-nyiain sedetikpun waktu untuk
tidak ketemu Reta. Kalau ada kesempatan buat ketemu, ngapain nggak aku gunain??
” Lo, kenapa kamu?? ” tanya Bara yang
melihatku lemas saat di kelas.
” Enggak apa kok. Aku baik-baik aja ”
jawabku.
” Nggak mungkin. Sob, muka kamu tu pucet ”
” Aku nggak papa ”
Mataku semakin rabun. Kenapa sih aku ini??
Saat aku membuka mataku, aku berada di UKS
dan hanya ada Bara di situ.
” Bandel aja kamu. Aku bilang apa, muka kamu
pucet, nggak mungkin kalau kamu nggak kenapa-napa. Barusan kamu pingsan ” ucap
Bara.
” Apa?? Aku pingsan?? ” kagetku.
” Ya ”
” Reta nggak kesini?? ” tanyaku.
” Reta?? Bukannya hari ini Reta nggak masuk??
Masak kamu nggak tau?? ”
” Jadi Reta nggak masuk?? Kenapa ya?? ”
Heranku
Kenapa tiba-tiba Reta nggak masuk?? Padahal
kemarin dia masih sehat wal’afiat. Tadi malem pun, dia ngucapin ‘Good Night’ ma aku, walaupun cuma lewat SMS aja.
Kenapa ya dia?? Daripada penasaran aku telepon aja dia. Kali aja dia sakit.
“ Halo “ katanya.
“ Kamu sakit?? “
“ Nggak. Hari ini aku ada seleksi buat
beasiswa. Kali aja aku dapat. Kalau dapat kan, orang tua aku nggak perlu
susah-susah biayain aku sekolah di Eropa ”
” Ya udah lah. Sukses ya. Love u ” kataku.
” Ya. Love U Too ”
Ternyata Reta memang nggak masuk sekolah.
Ngapain aku tadi maksain buat sekolah?? Sia-sia aja, toh aku nggak bisa ketemu
Reta. Mending di rumah, tidur. Tanpa aku sadari, hidung pesek ku ngluarin
darah. Masak segede ini aku masih mimisan?? Sampai pulang sekolah darah dari
hidungku nggak berhenti-berhenti. Dan sesampainya di rumah, aku membaringkan
badanku dan langsung aja memejamkan mataku. Adzan magrib membangunkanku. Syukur
Alhamdulillah darah dari hidungku berhenti. Malam hari waktu aku dengerin Yasika FM, hidungku kembali
mengeluarkan darah. Gawat ne kalau sampai orang tuaku tau. Langsung aja aku
tidur dan berdoa supaya besok pagi darah ini bisa berhenti. Kenapa ya,
akhir-akhir ne hidungku keluar darah terus?? Apa aku periksain aja ke dokter??
Ia udah lah, besok siang aku ke rumah sakit aja buat periksa.
* * *
Siang ini, aku harus ke dokter buat periksa.
Pergi sendiri aja. Kalau ngajak orang lain, takutnya ngrepotin.
Akhirnya keluar juga hasilnya. Kali ini aku
di sarankan dokter buat periksa darah. Semoga sih aku nggak papa. Aku berharap
untuk itu.
” Bagaimana, dok?? ” tanyaku ketika dokter
menerima hasil pemeriksaan darahku.
” Maaf, di hasil pemeriksaan darah anda, anda
menderita kanker darah atau leukimia stadium akhir. Dan waktu anda tidak akan lama lagi ”
kata dokter yang membuat aku takut akan kematian.
Nggak mungkin aku menderita kanker darah.
Selama ini aku sehat-sehat aja, kenapa tiba-tiba ada penyakit kanker darah yang
bersarang di tubuhku?? Apa yang harus aku lakukan?? Apa aku harus memberitau
semua keluarga dan kerabat dekatku?? Nggak mungkin, aku nggak mau buat mereka
ikut cemas memikirkan aku. Saat itu juga, aku mengambil keputusan untuk diam
soal penyakitku ini. Nggak ada seorangpun yang boleh tau, entah itu keluarga,
sahabat bahkan Reta aja nggak boleh tau.
Dengan muka kucel dan air mata yang belum
kering, aku pulang ke rumah. Sampai rumah, sudah ada Bara yang menunggu. Ooh
ya, hari ini kan aku janji sama dia buat nganter dia ketemuan dengan
sahabatnya. Mereka kenal lewat facebook. Belum pernah sekalipun mereka bertemu.
Hanya lewat fb atau facebook aja mereka curhat-curhatan dan
sesekali PDKT. Katanya dalam fb,
dia cewek dan punya nama panggilan Fylla. Sekali aku melihat foto dia di dalam Sony Ericson Bara. Semoga aja dia memang
bener-bener cantik kayak di foto. Sore ini, Bara dan Fylla janjian di cafe tama. Mereka berdua
sepakat buat pakai baju berwarna hijau dengan bawahan yang berwarna item.
Sampai di cafe,
ternyata ada seorang cewek berambut panjang memakai baju hijau dan bawahan
item. Pasti dia orangnya.
“ Ya udah. Aku tunggu di sini, kamu hampirin
tu cewek. Sukses bro “ kataku yang berusaha ceria.
“ Oke deh ” ucap Bara.
Akhirnya Bara menghampiri tu cewek. Kelihatan
akrab mereka. 2 jam berlalu, Bara mengajak Fylla untuk kenalan denganku.
Ternyata foto di dalem HP Bara itu nyata. Fylla memang cantik. Bahkan aku
bilang sangat cantik. Tapi masih banyakan Reta.
” Fyll, ini Marlo, sahabat aku. Lo, ini Fylla
yang selalu aku critain itu” kata Bara yang ngenalin aku sama Fylla.
” Hai, Marlo ” ucap Fylla.
” Hai juga, Fyll. Salam kenal ya ” ujarku.
Dengan hati yang belum puas buat ketemuan
sama Fylla, Bara dan aku pulang. Tapi udah mending, daripada belum pernah
ketemuan sama sekali.
” Gimana, Lo?? Cantik nggak menurutmu?? ”
tanya Bara sambil menyetir Jazz nya.
” Lumayan, tapi buat aku masih cantikan Reta
” jawabku sambil tertawa.
” Kapan ya aku harus nembak dia?? ” tanya
Bara lagi.
” Secepatnya. Jangan sia-siain kesempatan ”
* * *
Di kelas, aku merasa pusing. Rasanya aku mau
pingsan lagi. Tiba-tiba Bara datang dengan muka ceria. Kenapa tu orang??
” Bro ” katanya.
” Kenapa?? Baru dapat kiriman duit dari bonyok ?? ” tanyaku keheranan, soalnya nggak
biasanya Bara datang dengan muka seceria itu.
” Bukan. Lo, aku jadian sama Fylla ”
jawabnya.
” Selamat, sob. Kapan?? ”
” Tadi malam, aku telepon dia. Dan tanpa aku
sangka dia nrima aku “
” Jadi, kita bisa double date kan kalau jalan?? ” tanyaku.
” Ya ”
Ringtone HP Bara berbunyi, mengganggu obrolan kami aja. Bara pergi
dan Reta datang menghampiriku.
” Lo ”
” Reta ”
” Kamu sakit?? ” tanya Reta.
” Enggak kok. Tenang aja. Gimana kemarin
seleksinya?? ”
” Aku nggak dapat . . . ” katanya sambil
menundukkan kepalanya.
” Yaudah, nggak papa. Mungkin itu bukan buat
kamu ”
” Maksud aku, aku nggak dapat peringkat 2.
Aku dapat peringkat 1. Otomatis aku dapat beasiswa itu ” ujarnya dengan girang
dan membuatku tersenyum lebar.
” Tepatnya kapan kamu mau ke Eropa?? ”
” Habis ulangan umum. Tapi nunggu hasilnya
dulu. Kenapa?? ”
” Apa nggak bisa tahun depan?? ”
” Nggak lah. Orang tua aku udah mengharapkan
aku dan kami sepakat akhir tahun ajaran ini aku pergi ke sana ”
Jadi, positive sudah. 1 bulan lagi aku harus berpisah
dengannya. Sepertinya, kami nggak akan bertemu lagi. Penyakitku semakin hari
semakin parah. Dan nggak mungkin aku harus nunggu Reta.
* * *
” Sob, kamu ada di mana?? ” tanyaku setelah
Bara mengangkat teleponku.
” Sorry ya Marlo. Bara lagi sibuk. Dan
maaf, Bara sekarang buat aku ” jawabnya, tapi sepertinya itu suara cewek. Pasti
Fylla, sampai segitunya Fylla melarang aku buat ngomong sama Bara.
Aku butuh banget temen cerita. Reta nggak
mungkin jadi pendengarnya, kan yang akan aku critain ini soal Reta. Bara
sekarang lebih mentingin Fylla. Sama siapa aku harus cerita??
* * *
Pulang sekolah aku melihat Bara. Langsung aja
aku hampirin dia. Tapi sayangnya, Bara buru-buru. Dan aku ragu Bara akan mau
dengerin ceritaku.
” Bar, aku mau crita ” kataku.
” Sorry, sob. Aku udah telat setengah jam.
Aku mau jemput Fylla dulu ya ” kata Bara yang kemudian meninggalkan aku.
Huh, Bara aja sekarang udah nggak pernah mau
dengerin cerita aku. Aku seneng Bara jadian sama Fylla, tapi rasanya Fylla
sangat mengekangnya. Apa Bara benar-benar bahagia dengan Fylla?? Atau Bara
hanya pura-pura bahagia?? Semoga aja Bara memang benar-benar bahagia dengan
Fylla. Kalau Bara seneng otomatis aku juga akan seneng. Walaupun aku harus
kehilangan sahabat baik aku yang selama ini udah aku anggap sebagai adik aku.
Lagipula aku udah janji, sebelum ajal datang padaku, aku akan buat semua orang
di samping aku bahagia. Sejak saat itu aku pergi ke Rumah Sakit buat berobat
dan terapi.
* * *
5 hari sudah aku menginap di Rumah Sakit. 5
hari juga aku nggak masuk sekolah. Semoga aja teman-temanku nggak khawatir. Bonyokku udah tau, jadi mereka
memaksaku buat berobat. Tapi selama 5 hari aku terapi, belum ada kamajuan juga.
Akhir minggu ini, aku diajak orang tuaku pergi ke Singapura buat terapi lebih
lanjut. Walaupun orang tuaku sangat memaksaku, tapi aku memilih buat tinggal di
sini. Aku nggak mau meninggal di negara orang. Aku mau
meninggal di negaraku sendiri, Indonesia.
Hari ini aku putuskan masuk sekolah,setelah
kemarin sore aku pulang dari Rumah Sakit. Aku ingin melihat semua wajah teman-temanku, termasuk
Reta dan Bara.
” Marlo ” kata Reta sambil meneteskan air
mata dan kemudiam memeluk tubuhku sewaktu bertemu denganku di depan kelasku.
” Reta ” kataku.
” Kamu sakit separah ini, kenapa kamu nggak
beritau aku?? ”
” Aku nggak mau kamu ikutan sedih. Lebih baik
aku aja yang menderita ”
“ Aku akan selalu sayang sama kamu. Sekarang
aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu. Aku akan bilang sama orang tuaku, aku
akan batalin beasiswa itu. Jadi, aku nggak akan pergi ke Eropa ” ujarnya.
” Nggak perlu, Ta ”
” Enggak, aku akan ngedampingin kamu ”
” Ya, Lo. Aku juga. Sorry ya kalau kemarin-kemarin aku lebih
mentingin Fylla daripada kamu. Dan sekarang aku juga akan ada di samping kamu.
Fylla udah aku putusin, buat apa cewek seperti itu. Aku nggak mau di kekang
sama dia ” ujar Bara sambil menangis yang tiba-tiba datang menghampiriku dan
Reta.
* * *
Malam ini aku berencana ngundang Bara dan
Reta untuk datang ke rumahku. Nggak tau kenapa malam ini aku ingin banget
ngeliat wajah mereka.
” Lo ” sapa mereka yang datang bareng dengan
air mata yang masih ada di pipi mereka. Tapi aku tetep salut, walaupun ada air
mata tapi masih ada senyum di wajah mereka.
” Makasih ya kalian udah mau datang ke
rumahku ” kataku sambil tersenyum.
Langsung aku ajak dinner mereka sama orang tuaku. Setelah dinner, Reta mengajak aku buat
melihat bintang di taman. Sampai di sana, aku dan Reta duduk di sebuah bangku
yang terbuat dari semen.
” Ta ” kataku.
” Ya, Lo. Kenapa?? ” tanya dia sambil
menangis.
” Kamu kenapa?? Aku nggak mau liat kamu sedih
” ucapku sambil menghapus beberapa tetesan air mata di pipinya.
” Makasih, Lo ” katanya yang kemudian menaruh
kepalanya di bahuku.
” Aku yang seharusya berterima kasih. Kamu
udah setia ma aku “
“ Lo, tiap aku pacaran aku selalu berjanji
sama diri aku sendiri. Aku bakalan sayang sama pacar aku, walaupun ada
rintangan yang memisahkan. Tapi aku selalu sayang sama pacar aku itu. Nggak beda sama
kamu. Kamu juga selalu aku sayang dalam suka atau duka. Aku trima kamu apa
adanya. Aku sayang sama kamu, Lo ” katanya.
Setelah aku mendengar itu aku nggak ngrasain
apa-apa. Hanya gelap gulita yang aku liat. Tak ada sedikitpun bunyi yang
terdengar di telingaku. Mulutku sulit buat di gerakkan dan dada rasanya seperti
diikat kencang oleh seutas tali. Apa
ini yang namanya ajal??
* end *
