cerpen satu : RISALAH CINTA  

Posted by b i a n


Aku Dira, seorang remaja cewek kelas 2 SMA yang sampai saat ini belum pernah punya 1 pacar pun. Betapa nelangsanya diriku??? Apa mungkin gara-gara body ku yang nggak keren?? Atau gara-gara rambutku yang panjang dan agak curly ini?? Apalah itu?? Tapi, di sisiku masih ada Lyla, sahabat kecilku yang selalu ada buatku. Memang kalau masalah body aku kalah dengannya, tapi soal brain, aku lebih unggul dari dia. Rumah kami bersambung, jadi kami seperti 1 keluarga. Aku juga punya sahabat lain, namanya Reymond. Biasa aku panggil Rey. Umurnya 3 tahun di atas aku dan Lyla. Dia tinggal di Eropa ikut kedua orang tuanya. 10 tahun sudah dia pergi, tapi belum ada juga kabar dari dia untuk pulang. Ya, udah 10 tahun juga aku memendam rasa sayangku dengannya.  Kangen rasanya hatiku ingin ketemu dengannya. Cuma dengan email aja aku bisa  berhubungan sama dia. Itu pun aku ngaku-ngaku sebagai Lyla, agar dia bales email dari aku. Tapi ssssssssssttt yaa, yang tau tentang rasa cintaku  dan kebohonganku cuma aku, kamu dan Tuhan. Lyla aja nggak tau, soalnya kalau Lyla sampai tau, pasti dia akan ngira aku plin-plan. Daridulu aku Cidaha dengan Rey, dalam hati ku sayang tapi mau bagaimana lagi?? Aku harus diam soal cintaku, karena aku tahu Rey dari kecil sayang sama Lyla. Akupun di minta bantuin dia untuk ngedapetin Lyla. Tapi Lyla tetep nolak Rey. Ya karena Rey kecil gendut dan cabi gitu. Ough ya, kami bertiga punya kalung persahabatan. Kalung itu masing-masing ada liontin abstraknya. Jika tiga liontin disatuin, akan menjadi satu liontin yang berbentuk lingkaran dan di setiap potong liontin ini ada inisial nama kami.

* * *

” Dir, email-an sama siapa kamu?? ” tanya Lyla saat aku sedang keasyikan email-an sama Rey.
” Rey ”
” Rey??? Si pipi cabi itu??? Ngapain kamu email-emailan sama dia?? Kurang kerjaan aja?? ”
” Ya, dia kan juga sahabat kita. Eh ya La, dia nanyain kamu ne ”
” Nggak penting. Terserah kamu mau jawab apa ” ucap Lyla sambil keluar dari kamarku.
” Hah?? ” kagetku sambil melototkan mataku saat kutahu Rey akan pulang. Aku memang pengen dia pulang, tapi aku khawatir bagaimana kalau dia tahu tentang kedustaanku selama ini?? Bagaimana kalau ternyata yang emailan sama dia bukan cewek yang dia suka?? Bakalan mati berdiri aku. Bakalan di benci aku sama dia. Semaleman aku tidak tidur, tidak belajar pula, hanya memikirkan masalah Rey akan pulang. Ternyata satu-satunya cara agar kebohonganku tidak terbongkar aku harus minta Lyla untuk bohong sama Rey. Tapi Lyla mau nggak ya??
” Pagii La ” sapaku saat aku ketemu Lyla di kantin sekolah yang penuh dengan khalayak itu.
” Pagii juga Dir. Kenapa?? Tampang kamu kucel gitu?? ” jawab Lyla.
” Aku bisa minta tolong?? ”
” Dir, kita udah 10 tahun lebih bersahabat. Kenapa kamu harus minta tolong?? Tanpa minta tolongpun, aku bakalan bantu kok, kalau aku bisa. Minta tolong apa?? ” jelas Lyla dengan tersenyum.
” Aku udah bohong sama Rey. Selama ini aku email-emailan dengan dia atas nama kamu ”
” Apa?? ” Lyla kaget dengan menajamkankan matanya ke arah mataku.
” La, maafin aku. Aku tahu bohong itu dosa tapi aku seperti itu biar dia balas email dari aku. Aku pengen tahu kabar dia  ” kataku yang merengek kepada Lyla.
” Terus?? Apa masalahnya ?? ”  tanya Lyla kepadaku yang sedang khawatir dan ketakutan.
” La, beberapa hari lagi Rey akan pulang. Aku takut La, kalau dia sampai benci aku. Makanya aku mau kamu ngaku sama Rey kalau yang emailan sama dia itu kamu ” jelasku.
” Dir, kok kamu malah ngelibatin aku sih?? Aku kan nggak tau apa-apa ”
” Maafin aku La !!! ”
Lyla pergi dari hadapanku dengan membawa amarahnya yang membara. Aku takut kalau dalam sekejap aku kehilangan 2 sahabatku. Dalam lamunanku, tiba-tiba ada seorang cowok cakep yang memegang bahuku. Sambil berkata ” Hei !!! ”. Aku keget. Rasanya aku nggak pernah kenal sama cowok ini, tapi rasanya dia nggak asing buatku. Akupun menyahuti sapaannya.
” Heii juga. Maaf, anda siapa ya ?? ” tanyaku keheranan.
” Dira?? ” jawabnya, sepertinya kenal denganku.
” Betul. Anda siapa ya?? ” tanyaku lagi dengan keherananku yang semakin banyak.
” Aku Rey temen kecil kamu. Aku baru pulang dari Eropa ” jawabnya heboh.
” Apa?? Rey?? Reymond?? ”
” Ya, aku Reymond. Aku kangen kamu. Sama Lyla juga “ katanya sambil memeluk tubuhku yang masih nggak percaya kalau itu Reymond, temen kecilku dulu. ” Dir?? ” panggilnya kepadaku.
” Apa?? Kamu Rey beneran ?? ” tanyaku dengan ketidakkepercayaanku.
” Ya. Kamu nggak percaya?? Ni, kalung persahabatan kita ” jawabnya sambil memperlihatkan kalung persahabatan kami. Akhirnya aku percaya.
’ Wow, ternyata Rey dewasa tambah cakep ’ bisikku dalam hati. Menambah besarnya cintaku sama dia aja. Aku belum puas ngobrol dengannya, tapi bel masuk udah berbunyi.
” Bel tu. Aku pulang dulu. Ntar kamu ma Lyla aku jemput. Aku pengeeeeeeeeeeeeeeen banget ketemu sama dia ” kata Rey.

* * *

Bahasa Indonesia, pelajaran yang paling aku suka. Tiap pelajaran ini, aku selalu memperhatiin, karena besok aku mau ambil jurusan sastra kalau kuliah, tapi kali ini aku tinggal ngobrol dengan Lyla. Aku harus bisa membujuk Lyla biar dia mau ngaku sama Rey.
” La, gawat ni ” kataku sambil bisik-bisik. Kalau enggak, gurunya bakalan marah. Guru Bahasa Indonesiaku ini terkenal dengan kekillerannya.
” Kenapa?? ” jawab Lyla yang cuek dan terlihat masih marah ma aku.
” La, Rey uda pulang ”
” Terus?? ”
” Kamu bisa kan ngabulin permintaan aku tadi?? ”
” Tau deh !!! ” jawabnya sangat ketus.
Huh, Lyla sepertinya masih marah. Gimana ni kalau Lyla nggak mau?? Aku bakalan mati berdiri beneran ne. Dari kecil, kalau Rey marah nggak ada yang bisa buat nenangin dia.

* * *

Sepulang sekolah, dengan kebingunganku yang masih ada dalam otakku, aku keluar dari sekolah dan terlihat ada Lyla sedang ngobrol dengan cowok. ”Siapa tu cowok?? Hah?? Rey?? ” kataku dengan kaget. Betapa terkejutnya aku ketika melihat yang diajak ngobrol Lyla itu Rey. Aku takut, semuanya terbongkar. Aku belum siap. Akupun langsung menuju ke arah mereka ngobrol. Semoga aja semuanya belum terlambat.
  Syaaang semua !!! ” sapaku.
” Siang juga, Dir ” jawab Rey dengan senyumnya yang menawan, sampai meluruhkan hatiku. Wuah, senengnya.
” Siang juga, Dir ” jawab Lyla yang rasanya udah nggak marah ma aku.
” La, kamu udah tau siapa dia?? ” tanyaku keheranan.
” Udahlah. Masak ma cowok ini aku lupa ” jawab Lyla sambil tersenyum ceria. Aku melihat ada rasa suka di mata Lyla. Jangan-jangan Lyla udah suka sama Rey??
” Dir, kenapa kamu nggak pernah email aku?? kenapa yang email aku Lyla terus?? ” tanya Rey.
” Soalnya Dira kan belajar, belajar dan belajar. Jadi, nggak sempet deh buka email. Ya nggak Dir?? ” sahut Lyla yang kemudian berbisik kepadaku ” Tenang aja, aku uda ngaku kok. Jadi kamu nggak perlu khawatir soal kebohongan itu ”.
Aku merasa tenang sekejap, akhirnya kebingungan dan ketakutanku hilang. Tapi rasa khawatir yang kembali muncul, gimana kalau sekarang Lyla suka Rey??
Kami bertiga pulang, di ruang tamu sudah ada ortu Rey, ortuku dan juga ayah Lyla. Mungkin mereka juga kangen-kangenan, maklum lama nggak ketemu.
” Siang, Tante, Om ” sapaku bareng Lyla.
” Siang juga ” jawab Om Tirta dan Tante Wida, ortu Rey.
” Mana ini yang Lyla?? Dan mana yang Dira?? ” tanya Tante Wida.
” Saya Dira tante. Dan ini Lyla ” jawabku.
” Udah cantik-cantik ya sekarang. Tidak seperti waktu kecil ” kata Om Tirta sambil tertawa.
” Sekarang kita masuk. Kita siap-siap buat nanti malem ” kata Om Rimba, ayah Lyla. Lyla udah nggak punya mama. Udah 5 tahun yang lalu, mama Lyla meninggal. Dan sekarang, ayah Lyla udah sakit-sakitan. Kalau sampai ayah Lyla meninggal, bakalan hancur hidup Lyla.
” Ouh ya, nanti malem kita pesta kecil-kecilan di taman belakang buat ngrayain pulangnya keluarga Om Tirta. Setelah 10 tahun nggak pulang ” kata mamaku, Shella.
Kami masuk, sepertinya aku bakalan sendiri lagi. Rey dengan Lyla udah semakin akrab lagi. Tapi, aku nggak boleh sedih, mereka sahabatku yang selalu di sampingku dan aku harus berusaha seneng dengan ini semua. Nggak mungkin aku nunjukin rasa sedih dan rasa cemburu aku ini.

* * *

Malem ini, keluargaku, keluarga Rey dan keluarga Lyla akan pesta kecil-kecilan di taman belakang rumah kami. Asyik, tapi sayangnya aku sendiri. Rey dan Lyla asyik ngobrol berdua. Jadi BT deh.
” Semuanya, Dira ke kamar dulu ya. Udah malem ” kataku yang pamit dari hadapan mereka. Aku nggak tahan melihat Lyla dan Rey berdua.
” Hloh Dir, kamu mau kemana?? ” tanya Lyla yang kelihatan berseri-seri.
” Aku mau ke kamar dulu. Malem semua ” kataku.
Sampai di kamar aku langsung menuju ke diaryku. Tapi pintu kamarku ada yang mengetuk. ’ Siapa ya??? ’ Tanyaku di dalam hati.
” Dir ” Suara seseorang yang terdengar dari balik pintu. Rasanya aku kenal suara itu. Aku buka. Ternyata Rey dateng.
” Hei manis ” kata gombal dari mulutnya yang keluar buatku.
” Hei juga ” jawabku.
” Kenapa kamu?? Tiba-tiba ke dalem?? ”
” Nggak apa kok. Aku ngantuk, pengen tidur. Met malem ” kataku sambil menutup pintu. Tapi Rey menahan pintu itu sambil berkata ” Dir, kamu kenapa?? ”
” Aku nggak papa. Kamu tenang aja ” kataku tersenyum yang kemudian menutup pintu. Tapi udah nggak ada yang nahan.
” Ya udah. Met malem ” katanya yang terlihat kecewa.

* * *

” Dir, ternyata kalau udah gede si Reymond itu cakep juga ya?? Makasih Dir, kamu udah ngebuka peluang buat aku, sekarang tinggal nglanjutin aja kebohongan ini ” kata Lyla yang sedang ngobrol denganku di taman sekolah.
” Ya, sama-sama ” jawabku.
” Tapi kamu nggak suka kan sama Rey?? ” tanya dia.
” Aku suka kok sama Rey, tapi kamu udah ngrebut dia dari aku.............Bercanda, nggak mungkin aku suka Rey. Aku cuma anggep dia sahabat aja ” candaku yang buat Lyla heran.
” Untung deh, kalau kamu nggak suka. Kalau kamu suka, kamu akan jadi sainganku ” kata Lyla sambil tersenyum girang.
’ Theeeeeeeeet-theeeeeeeeet ’ Bunyi bel masuk sekolah uda manggil tu, aku dan Lyla segera ke kelas.

* * *

Siang hari, saat aku dan Lyla pulang sekolah, ada Rey di depan rumah. Rasanya dia mau menyambut kita berdua. Tapi sayang, cuma Lyla yang di sambutnya. Aku di tinggalin di depan rumah.
” Hei La ” sapa dia sambil menggandeng Lyla buat masuk. Nggak ada sedikit sapaan pun buat aku. Sekejap aku diam terpaku. Sehembus angin menyadarkanku. ’ berpikir apa aku ini, aku kan mau bikin mereka jadian. Walaupun aku harus ngorbanin perasaanku,  tapi aku harus tetep berusaha. ’. Masuklah aku ke dalam. Di dalem ada suara dari arah ruang keluarga. Sepertinya itu obrolan orang tua kami. Walaupun lirih, aku mendengar kalau akan dilaksanakan pertunangan antara Rey dan Lyla. Betapa terkejutnya aku. Seolah semua syaraf ku berhenti.
” Dir ” sapa Lyla dari belakangku yang menyadarkanku dari lamunanku.
” Eih, La, Rey ” jawabku sambil membalikkan tubuh kurusku.
” Kamu ngapain di situ?? “ tanya Rey.
“ Enggak. Aku nggak papa kok. Kalian mau pergi?? ” kataku.
” Ya. Mau ikut Dir?? Kami mau cari baju buat Rey ” jawab Lyla.
” Kamu nggak mau ikutkan Dir?? ” tanya Rey kepadaku. Rey udah kasih kode tu, kayaknya Rey nggak akan suka kalau aku ikut. Mending di rumah aja.
” Enggak, La. Makasih. Aku ke kamar dulu ya ” kataku.
Aku menuju ke kamar dengan muka sedihku. Hari ini rasanya hari sedihku. Kapan aku bisa seneng?? Tapi aku tetep positive thinking, aku juga akan punya kebahagiaan dari Tuhan.

* * *

” Pas sekali, kalian ada di sini. Saya akan bilang sama kalian semua. Minggu depan Rey dan Lyla akan tunangan ” kata Tante Wida.
Aku sedih sekali. Tapi, di wajah Rey dan Lyla tidak ada sedikitpun raut wajah yang memperlihatkan kesedihan. Mereka malah hanyut dalam kebahagiaan, aku usaha buat ikutan seneng aja. Kalau aku memperlihatkan kesedihanku pasti semua akan ngira kalau aku nggak suka Rey dan Lyla tunangan.
” Aku seneng banget, Rey ” kata Lyla.
” Aku juga. Dari kecil aku suka sama kamu tapi kamu nggak pernah ngrespon aku. Tapi makasih, sekarang kamu udah bisa trima aku ” kata Rey.
Tunangan?? Aku rasa aku belum denger Rey dan Lyla jadian, tapi kenapa tiba-tiba mereka akan tunangan. Di saat orang tua kami tidur, aku menuju ke kamar Lyla, di situ masih ada Rey.
” Hai, Rey. Hai, La ” sapaku setelah aku masuk ke kamar Lyla. Semoga aku nggak ganggu mereka.
” Hai Dir ” mereka menjawab sapaanku secara bersamaan.
” Mau ngapain, Dir?? ” tanya Rey yang seolah tidak suka dengan kedatanganku ke kamar Lyla.
” Sayang, kamu keluar dulu ya. Mungkin Dira mau curhat sama Masalah cewek ” kata Lyla. Sakiiiit banget ketika mendengar kata Sayang dari mulut Lyla. Mereka udah semakin lengket kayak perangko yang di lem pake lem Castol.
” Ya sayang ” kata Rey yang kemudian meninggalkan aku ma Lyla.
” La, aku mau tanya ”
” Tanya apa Dir?? ” kata Lyla.
” Kamu udah jadian sama Rey?? ” tanyaku yang ketakutan kalau Lyla marah.
” Udah. Baru tadi siang. Pas kami jalan tadi. Kata Rey, sebelumnya, dia udah minta orang tuanya buat nglamar aku. Kenapa Dir?? ” jawab Lyla yang kemudian bertanya kepadaku.
” Nggak papa kok. Aku keluar dulu. Apa perlu aku panggilin Rey ke sini?? ”
” Nggak usah. Aku Mau tidur aja. Kalau dia tanya, bilang aja aku udah tidur ”
Aku keluar dengan wajah 50% seneng dan 50% sedih. Di dalam kamarku, udah ada Rey yang duduk di tempat tidurku sambil membaca sebuah buku berwarna pink.
” Dir ” panggil Rey kepadaku.
” Hai, Rey ” jawabku dengan senyuman ramahku.
” Apa isi diary ini bener?? ” tanya dia yang membuatku gugup.
” Kamu baca diary aku?? “ tanyaku yang balik nanya kepadanya.
” Apa salahnya?? Aku kan sahabat kamu?? ”
” Rey, diary ini privacy aku. Walaupun kamu sahabat aku, tapi nggak semestinya kamu baca. Lyla aja nggak pernah baca diary ku“ marahku kepadanya.
“ Sekarang kamu jawab pertanyaan aku. Apa diary ini bener?? ” tanya dia dengan pandangan mata yang dalam. Aku nggak tahan dengan tatapan matanya yang bagai busur panah itu. Akhirnya aku mengaku.
” Ya. Semua dalam diary itu bener “ jawabku.
“ Jadi, kamu suka aku?? Dan selama ini yang emailan sama aku itu kamu?? ”
” Ya. Aku suka kamu dari kecil tapi kamu nggak pernah ngrespon cinta aku. Yang ada dalam hati kamu cuma Lyla, Lyla dan Lyla. Nggak pernah kamu sedikitpun memperhatiin aku. Soal email itu benar, yang selama ini emailan sama kamu itu aku, bukan Lyla. Aku takut, kalau atas namaku, kamu nggak bales email aku. Sekarang udah puas kan kamu?? ”
” Kenapa kamu nggak ngomong dari dulu?? ”
” Percuma, aku ngomong dari dulu, kamu juga nggak bakal kan nanggepin cinta aku?? Udahlah Rey. Kamu sekarang adalah calon tunangan Lyla. Anggep aja diary ini nggak ada. Lupakan. Sekarang kamu keluar dari kamarku  ” jelasku yang kemudian mengusirnya dengan amarahku.
” Tapi Dir . . . . ”
” Nggak ada tapi-tapian, lupakan semua Rey ”
Aku berusaha nahan air mataku. Setidaknya sampai Rey keluar dari kamar aku. Setelah Rey keluar, aku menangis. Semua air mataku sepertinya akan keluar malam ini. Aku nggak tahan, aku pengen nangis, aku pengen triak, biar semua rasa sedihku bisa ilang.

* *  *

Malem pertunangan Lyla dan Rey tiba. Aku di kamar sendiri sambil melihat foto-foto kami bertiga yang ada di dalam Nokiaku. Rasanya pengen nangis tapi apa coba pengaruhnya buat mereka?? Tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. ’ Tok Tok Tok ’, sebelum aku persilahkan, si pengetuk itu sudah masuk kamarku gitu aja.
” Dir ” kata Rey setelah masuk ke kamarku dan menutup pintunya.
” Kenapa, Rey?? Bukannya kamu mau tunangan?? ” tanyaku dengan ketus.
” Aku ragu dengan pertunangan ini. Aku ngrasa aku sayang sama kamu. Aku akan batalin pertunangan ini. Kalaupun jadi, aku tunangan sama kamu, bukan sama Lyla ”
” Gila kamu. Kamu tu mau tunangan sama Lyla malem ini. Bukan sama aku. Aku juga nggak mau nyakitin hati dia, Rey ”
” Aku sayang sama kamu. Aku sadar waktu kecil aku emang cinta gila sama Lyla. Tapi aku sadar aku ternyata aku sayang sama orang yang emailan sama aku. Yang tiap hari perhatian sama aku. Yang selalu mengingat semua tentang aku. Aku nggak butuh Lyla, aku butuh kamu ” Kata Rey sambil memegang tanganku dan menatap mataku tajam, yang kemudian memasung mulutku. Sampai-sampai aku nggak bisa ngomong sepatah katapun. Tanpa aku dan Rey sadari, ternyata ada Lyla di depan pintu dan langsung masuk ke kamarku. Seketika aku dan Rey kaget.
” Lyla ” kagetku bersamaan dengan Rey.
” Dir, Rey, kalau kalian saling sayang. Aku nggak papa kok. Lagian kaliankan juga sahabatku. Aku sadar Rey, waktu kecil emang aku cuek gitu aja sama kamu, karena kamu dulu nggak seperti ini. Dulu kamu gendut, bukan selera aku banget. Tapi setelah kamu pulang dari Eropa, aku ngrasa suka sama kamu. Nggak tau suka karena cinta beneran atau cuma cinta sesaatku aja. Sekarang aku udah tau, itu semua cinta sesaatku aja. Dan aku pengen yang tunangan kalian. Rey dan Dira, bukan dengan aku ” bijak Lyla sambil tersenyum kepadaku dan Rey.
” Tapi, La... ” kataku yang kemudian di potong sama Lyla.
” Udah. Nggak usah tapi-tapian. Aku rela kok, Dir. Aku ikhlas dan aku juga nggak akan dendam sama kalian. Toh, masih banyak cowok di dunia ini. Ya nggak?? ” kata Lyla yang membuat aku dan Rey bernapas lega, dan kemudian tersenyum. Saat itu juga kami bertiga berpelukan.
Akhirnya malam itu aku dan Rey bertunangan, walaupun kami nggak tau kapan waktu pernikahan itu tiba. Betapa bahagianya aku, cowok yang selama ini aku idam-idamkan sekarang udah jadi milik aku. Walaupun hanya tunangan. Thanks God....

* end *


This entry was posted on Sabtu, 20 Agustus 2011 at 07.24 . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 komentar

Posting Komentar