puisi dua : DIA BERMIMPI  

Posted by b i a n

Sosok ini begitu kukenal. .
Dengan asanya yang tak pernah usai. .
Sikapnya yang begitu ambisius. .
Menginginkan apa yang ada di benaknya. .
Apapun yang terfikir akan digapainya. .
Dengan usahanya yang tak pernah pupus. .
Cita-citanya sangat tinggi. .
Setinggi mentari yang selalu bersinar. .

Dia mengerti akan hadir dirinya. .
Dia tahu akan apa yang ada di dalam dirinya. .
Hanya saja dia tak sadar jika melakukan kesalahan. .
Kesalahan yang membuat dirinya jatuh. .
Kesalahan yang akan menjauhkannya. .

Dia lakukan apa yang dia rencanakan. .
Sampai kepuasan merajai hati dalamnya. .
Jika masih ada angan terlintas. .
Semangatnya tak akan surut. .
Untuk mendapatkan semuanya. .

Tak akan terhenti mimpi-mimpinya. .
Tak akan hilang semua semangatnya. .
Meskipun ada halangan merintang. .
Dia akan tetap terjang segalanya. .

Masihkan dia berangan??
Sampai mati dia akan terus berangan. .
Berharap angan itu akan dia wujudkan. .
Dalam sebuah pencapaian. .
Yang pastinya akan terkenang. .
Dan aku tahu semuanya. .
Dia adalah aku. .
Aku adalah dia. .

puisi satu : TEENAGERS OF SCIENTIST TWO 2011  

Posted by b i a n

Kisah ini dimulai sejak pertemuan itu. .
Aku bertemu kalian dikelas itu. .
Aku mengenal kalian melalui sebuah nama. .
Melalui sikap dan perilaku yang berbeda. .
Perbedaan itu yang awalnya membuat kita berai. .
Dan perbedaan itu pula yangg akhirnya membuat kita bersatu. .
Dengki. .Iri. .Benci. .
Dendam. .Dusta. .Hianat. .
Harusnya enyah dari benak kita. .

Hampir 2 tahun kita mengarungi waktu. .
Hampir 2 tahun kita bersama. .
Bersama melewati haru biru. .
Bersama dalam hiruk pikuk SMA. .
Bersama yang harusnya akan selamanya. .

Kawan. .
Persahabatan itu telah terjalin. .
Lewat sebuah nama yang telah mengikatkan kita. .
Satu dalam jiwa. .
Satu dalam TASTE. .
Aku tak tahu aku harus berkata apa. .
Dalam bulan-bulan terakhir masa terindah kita. .
Dalam penghabisan kita menjadi anak SMA. .
Aku tak pernah berpikir untuk berpisah. .
Tak ingin aku mengalaminya. .
Karena aku tahu perpisahan itu akan menyakitkan. .

Mungkin maaflah yang harusnya terucap. .
Memaafkan dan dimaafkan. .
Maaf atas semua khilaf selama ini. .
Maaf atas hati ini yang kadang tak suci. .
Maaf atas perilaku yang kadang berseteru. .

Kawan. .
Terimakasiih semuanya. .
Terimakasiih dengan kebersamaan ini. .
Terimakasiih dengan pertemanan ini. .

Bagiku. .
Esok adalah misteri. .
Kita tak tahu apa yang akan terjadi kelak. .
Kita juga tak tahu apa yang akan kita lakukan mendatang. .
Apa dengan berakhir masa ini,
kebersamaan itu juga akan berakhir??
Aku tak berharap seperti itu kawan .








cerpen dua : KETIKA AJAL MENJEMPUT  

Posted by b i a n

“ Tulilit…..Tulilit…….Tulilit “ Nokia ku berbunyi, membangunkan aku dari tidur lelapku semalem. Pertanda ada telepon tu, dari siapa ya pagi-pagi gini??
“ Halo “ kataku sambil berusaha membuka mataku yang masih ke lem oleh kotoran mata tentunya.
” Halo juga. Lo, kamu baru bangun?? Hari ini kan ada ulangan jam pertama. Lekas ke sekolah gih ” kata si penelepon yang ternyata itu Bara, sahabatku sampai sekarang. Kemana-mana kami selalu berdua. Kata orang kami kayak gay. Tapi perkataan itu nggak kami dengerin. Yang pasti kami masih normal.
” Ya ” kataku yang kemudian menutup telepon itu.
Sesegera mungkin aku mandi dan langsung berangkat ke sekolah dengan Blade item ku. 120 km/jam menjadi kecepatanku, biar aku sampai sekolah nggak telat. Kalau sampai telat, bakalan di marahi abis-abisan aku ma guru kimiaku yang terkenal killer itu. Dan yang pasti aku harus ikut ulangan susulan. Daripada itu terjadi, lebih baik aku ngebut. Semoga aja aku bisa mengejar waktu 15 menit untuk sampai di sekolah.
Huahh, syukur deh. Alhamdulillah, aku sampai di sekolah lebih cepet dari perkiraanku. Langsung aja aku menuju kantin, beli makan, paling enggak perutku terisi sebelum masuk sekolah.
” Heh Bro ” seseorang pegang bahuku, Bara ternyata.
” Kamu sob ” kataku.
” Udah belajar belum?? Katanya kelas lain, ulangannya susah lho ”
” Udah dikit. Kan ada kamu, sahabatku ” ucapku yang kemudian tertawa. Biasanya kalau ada ulangankan, aku selalu memanfaatkan Bara. Dia kan pinter, nggak ada salahnya donk??
Beberapa menit kemudian, bel masuk memanggil. Padahal soto yang aku pesan masih banyak. Yaudah lah, mau apa lagi. Aku dan Bara bergegas ke kelas dan meninggalkan semangkok soto yang tadi aku pesan. Selain killer guru kimiaku ini juga sangat menghargai waktu. Nggak pernah deh telat lebih dari 5 menit, selalu ontime. Jadi, daripada kena semprot aku tinggalin aja soto ku.
” Semua buku masukkan. Silahkan absen 1 sampai 20 ulangan duluan. Dan 21 sampai 40 keluar untuk ulangan nanti jam kedua ” kata guruku. Gawat ne, aku kan absen 24, berarti aku nggak bareng ulangannya ma Bara. Bara kan absen 5. Nggak biasanya ulangan kimia di bagi jadi 2. Tapi yaudah lah. Terima aja, dan siap-siap aja buat dapat nilai buruk.

* * *

“ Hadu, susah banget ulangannya. Bakalan dapat nilai jelek aku. Dan yang pasti, bokap nyokapku akan marah juga ” kataku pada Bara saat di kantin yang sedang dipenuhi khalayak.
” Makanya, aku tadi kan udah bilang. Kamu sih yang nggak mau dengerin omonganku ” ucap Bara.
Tiba-tiba sesosok makhluk manis nan cantik datang menghampiri meja kami. Itulah Reta, cewek yang udah 2 tahun aku pacarin. Sungguh-sungguh cantik dia. Aku beruntung dia memilih aku untuk jadi pacarnya. Walaupun banyak perbedaan kami yang rasanya sangat berlawanan. Salah satunya, aku bodoh dan dia pinter, buktinya semester lalu dia meraih juara umum. Bara aja kalah. Tapi apalah aku ini, nilai semester juga pas-pasan, nilai ulangan kadang baik kadang jelek. Namun semua itu sirna dan nggak pernah jadi masalah buat kami. Kami selalu menerima apa adanya.
” Hei, Marloku. Hei, Bar ” kata Reta sambil tersenyum manis.
” Hei, Sayang ” kataku.
” Hei, Ta. Daripada aku ganggu, lebih baik aku pergi aja dari sini. Aku ke kelas dulu ya ” ucap Bara yang kemudian pergi dari kantin.
” Lo, aku mau ngomong ” katanya.
” Ngomong aja ”
” Akhir tahun ajaran ini aku akan pergi ”
” Pergi kemana?? ” kataku yang masih merasa tenang.
” Aku akan tinggal dengan orang tuaku di Eropa ”
” Cuma selama liburan aja kan?? Nggak masalah ”
” Aku bakalan kuliah di sana ” katanya yang kemudian meninggalkan aku di kantin.
Aku kaget ketika mendengar kata-kata itu dari mulut Reta. Apa aku mimpi?? Nggak mungkin, ini jelas-jelas nyata. Kata-kata itu sungguh memasung syarafku. Pernah aku ngomong ma Reta, aku nggak kuat kalau harus long distance. Kenapa dia tega mau ninggalin aku?? Padahal akhir tahun ajaran ini kan kurang 1 bulan lagi. Jadi, hanya dalam waktu 1 bulan ke depan aku bersama dia?? Mana tahan aku. Dan nggak mungkin kalau aku harus putus sama dia. Aku sayang banget sama dia. Apa yang harus aku lakukan?? Apalagi Reta nggak jelasin kenapa dia akan tinggal di sana??
Tak selang beberapa saat, bel tanda masuk mengantarkan aku menuju kelasku. Sampai pulang sekolah aku nggak konsen mengikuti pelajaran hanya memikirkan Reta akan pergi.

* * *

Pagi yang indah, hari yang cerah, namu pusing menghinggapi kepala ku. Pasti gara-gara aku memikirkan Reta. Walaupun pusing, tapi aku harus tetap sekolah. Aku nggak mau nyia-nyiain sedetikpun waktu untuk tidak ketemu Reta. Kalau ada kesempatan buat ketemu, ngapain nggak aku gunain??
” Lo, kenapa kamu?? ” tanya Bara yang melihatku lemas saat di kelas.
” Enggak apa kok. Aku baik-baik aja ” jawabku.
” Nggak mungkin. Sob, muka kamu tu pucet ”
” Aku nggak papa ”
Mataku semakin rabun. Kenapa sih aku ini??
Saat aku membuka mataku, aku berada di UKS dan hanya ada Bara di situ.
” Bandel aja kamu. Aku bilang apa, muka kamu pucet, nggak mungkin kalau kamu nggak kenapa-napa. Barusan kamu pingsan ” ucap Bara.
” Apa?? Aku pingsan?? ” kagetku.
” Ya ”
” Reta nggak kesini?? ” tanyaku.
” Reta?? Bukannya hari ini Reta nggak masuk?? Masak kamu nggak tau?? ”
” Jadi Reta nggak masuk?? Kenapa ya?? ” Heranku
Kenapa tiba-tiba Reta nggak masuk?? Padahal kemarin dia masih sehat wal’afiat. Tadi malem pun, dia ngucapin ‘Good Night’ ma aku, walaupun cuma lewat SMS aja. Kenapa ya dia?? Daripada penasaran aku telepon aja dia. Kali aja dia sakit.
“ Halo “ katanya.
“ Kamu sakit?? “
“ Nggak. Hari ini aku ada seleksi buat beasiswa. Kali aja aku dapat. Kalau dapat kan, orang tua aku nggak perlu susah-susah biayain aku sekolah di Eropa ”
” Ya udah lah. Sukses ya. Love u ” kataku.
” Ya. Love U  Too 
Ternyata Reta memang nggak masuk sekolah. Ngapain aku tadi maksain buat sekolah?? Sia-sia aja, toh aku nggak bisa ketemu Reta. Mending di rumah, tidur. Tanpa aku sadari, hidung pesek ku ngluarin darah. Masak segede ini aku masih mimisan?? Sampai pulang sekolah darah dari hidungku nggak berhenti-berhenti. Dan sesampainya di rumah, aku membaringkan badanku dan langsung aja memejamkan mataku. Adzan magrib membangunkanku. Syukur Alhamdulillah darah dari hidungku berhenti. Malam hari waktu aku dengerin Yasika FM, hidungku kembali mengeluarkan darah. Gawat ne kalau sampai orang tuaku tau. Langsung aja aku tidur dan berdoa supaya besok pagi darah ini bisa berhenti. Kenapa ya, akhir-akhir ne hidungku keluar darah terus?? Apa aku periksain aja ke dokter?? Ia udah lah, besok siang aku ke rumah sakit aja buat periksa.

* * *

Siang ini, aku harus ke dokter buat periksa. Pergi sendiri aja. Kalau ngajak orang lain, takutnya ngrepotin.
Akhirnya keluar juga hasilnya. Kali ini aku di sarankan dokter buat periksa darah. Semoga sih aku nggak papa. Aku berharap untuk itu.
” Bagaimana, dok?? ” tanyaku ketika dokter menerima hasil pemeriksaan darahku.
” Maaf, di hasil pemeriksaan darah anda, anda menderita kanker darah atau leukimia stadium akhir. Dan waktu anda tidak akan lama lagi ” kata dokter yang membuat aku takut akan kematian.
Nggak mungkin aku menderita kanker darah. Selama ini aku sehat-sehat aja, kenapa tiba-tiba ada penyakit kanker darah yang bersarang di tubuhku?? Apa yang harus aku lakukan?? Apa aku harus memberitau semua keluarga dan kerabat dekatku?? Nggak mungkin, aku nggak mau buat mereka ikut cemas memikirkan aku. Saat itu juga, aku mengambil keputusan untuk diam soal penyakitku ini. Nggak ada seorangpun yang boleh tau, entah itu keluarga, sahabat bahkan Reta aja nggak boleh tau.
Dengan muka kucel dan air mata yang belum kering, aku pulang ke rumah. Sampai rumah, sudah ada Bara yang menunggu. Ooh ya, hari ini kan aku janji sama dia buat nganter dia ketemuan dengan sahabatnya. Mereka kenal lewat facebook. Belum pernah sekalipun mereka bertemu. Hanya lewat fb atau facebook aja mereka curhat-curhatan dan sesekali PDKT. Katanya dalam fb, dia cewek dan punya nama panggilan Fylla. Sekali aku melihat foto dia di dalam Sony Ericson Bara. Semoga aja dia memang bener-bener cantik kayak di foto. Sore ini, Bara dan Fylla janjian di cafe tama. Mereka berdua sepakat buat pakai baju berwarna hijau dengan bawahan yang berwarna item.
Sampai di cafe, ternyata ada seorang cewek berambut panjang memakai baju hijau dan bawahan item. Pasti dia orangnya.
“ Ya udah. Aku tunggu di sini, kamu hampirin tu cewek. Sukses bro “ kataku yang berusaha ceria.
“ Oke deh ” ucap Bara.
Akhirnya Bara menghampiri tu cewek. Kelihatan akrab mereka. 2 jam berlalu, Bara mengajak Fylla untuk kenalan denganku. Ternyata foto di dalem HP Bara itu nyata. Fylla memang cantik. Bahkan aku bilang sangat cantik. Tapi masih banyakan Reta.
” Fyll, ini Marlo, sahabat aku. Lo, ini Fylla yang selalu aku critain itu” kata Bara yang ngenalin aku sama Fylla.
” Hai, Marlo ” ucap Fylla.
” Hai juga, Fyll. Salam kenal ya ” ujarku.
Dengan hati yang belum puas buat ketemuan sama Fylla, Bara dan aku pulang. Tapi udah mending, daripada belum pernah ketemuan sama sekali.
” Gimana, Lo?? Cantik nggak menurutmu?? ” tanya Bara sambil menyetir Jazz nya.
” Lumayan, tapi buat aku masih cantikan Reta ” jawabku sambil tertawa.
” Kapan ya aku harus nembak dia?? ” tanya Bara lagi.
” Secepatnya. Jangan sia-siain kesempatan ”

* * *


Di kelas, aku merasa pusing. Rasanya aku mau pingsan lagi. Tiba-tiba Bara datang dengan muka ceria. Kenapa tu orang??
” Bro ” katanya.
” Kenapa?? Baru dapat kiriman duit dari bonyok ?? ” tanyaku keheranan, soalnya nggak biasanya Bara datang dengan muka seceria itu.
” Bukan. Lo, aku jadian sama Fylla ” jawabnya.
” Selamat, sob. Kapan?? ”
” Tadi malam, aku telepon dia. Dan tanpa aku sangka dia nrima aku “
” Jadi, kita bisa double date kan kalau jalan?? ” tanyaku.
” Ya ”
Ringtone HP Bara berbunyi, mengganggu obrolan kami aja. Bara pergi dan Reta datang menghampiriku.
” Lo ”
” Reta ”
” Kamu sakit?? ” tanya Reta.
” Enggak kok. Tenang aja. Gimana kemarin seleksinya?? ”
” Aku nggak dapat . . . ” katanya sambil menundukkan kepalanya.
” Yaudah, nggak papa. Mungkin itu bukan buat kamu ”
” Maksud aku, aku nggak dapat peringkat 2. Aku dapat peringkat 1. Otomatis aku dapat beasiswa itu ” ujarnya dengan girang dan membuatku tersenyum lebar.
” Tepatnya kapan kamu mau ke Eropa?? ”
” Habis ulangan umum. Tapi nunggu hasilnya dulu. Kenapa?? ”
” Apa nggak bisa tahun depan?? ”
” Nggak lah. Orang tua aku udah mengharapkan aku dan kami sepakat akhir tahun ajaran ini aku pergi ke sana ”
Jadi, positive sudah. 1 bulan lagi aku harus berpisah dengannya. Sepertinya, kami nggak akan bertemu lagi. Penyakitku semakin hari semakin parah. Dan nggak mungkin aku harus nunggu Reta.

* * *

” Sob, kamu ada di mana?? ” tanyaku setelah Bara mengangkat teleponku.
” Sorry ya Marlo. Bara lagi sibuk. Dan maaf, Bara sekarang buat aku ” jawabnya, tapi sepertinya itu suara cewek. Pasti Fylla, sampai segitunya Fylla melarang aku buat ngomong sama Bara.
Aku butuh banget temen cerita. Reta nggak mungkin jadi pendengarnya, kan yang akan aku critain ini soal Reta. Bara sekarang lebih mentingin Fylla. Sama siapa aku harus cerita??

* * *

Pulang sekolah aku melihat Bara. Langsung aja aku hampirin dia. Tapi sayangnya, Bara buru-buru. Dan aku ragu Bara akan mau dengerin ceritaku.
” Bar, aku mau crita ” kataku.
” Sorry, sob. Aku udah telat setengah jam. Aku mau jemput Fylla dulu ya ” kata Bara yang kemudian meninggalkan aku.
Huh, Bara aja sekarang udah nggak pernah mau dengerin cerita aku. Aku seneng Bara jadian sama Fylla, tapi rasanya Fylla sangat mengekangnya. Apa Bara benar-benar bahagia dengan Fylla?? Atau Bara hanya pura-pura bahagia?? Semoga aja Bara memang benar-benar bahagia dengan Fylla. Kalau Bara seneng otomatis aku juga akan seneng. Walaupun aku harus kehilangan sahabat baik aku yang selama ini udah aku anggap sebagai adik aku. Lagipula aku udah janji, sebelum ajal datang padaku, aku akan buat semua orang di samping aku bahagia. Sejak saat itu aku pergi ke Rumah Sakit buat berobat dan terapi.

* * *

5 hari sudah aku menginap di Rumah Sakit. 5 hari juga aku nggak masuk sekolah. Semoga aja teman-temanku nggak khawatir. Bonyokku udah tau, jadi mereka memaksaku buat berobat. Tapi selama 5 hari aku terapi, belum ada kamajuan juga. Akhir minggu ini, aku diajak orang tuaku pergi ke Singapura buat terapi lebih lanjut. Walaupun orang tuaku sangat memaksaku, tapi aku memilih buat tinggal di sini. Aku nggak mau meninggal di negara orang. Aku mau meninggal di negaraku sendiri, Indonesia.
Hari ini aku putuskan masuk sekolah,setelah kemarin sore aku pulang dari Rumah Sakit. Aku ingin melihat semua wajah teman-temanku, termasuk Reta dan Bara.
” Marlo ” kata Reta sambil meneteskan air mata dan kemudiam memeluk tubuhku sewaktu bertemu denganku di depan kelasku.
” Reta ” kataku.
” Kamu sakit separah ini, kenapa kamu nggak beritau aku?? ”
” Aku nggak mau kamu ikutan sedih. Lebih baik aku aja yang menderita ”
“ Aku akan selalu sayang sama kamu. Sekarang aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu. Aku akan bilang sama orang tuaku, aku akan batalin beasiswa itu. Jadi, aku nggak akan pergi ke Eropa ” ujarnya.
” Nggak perlu, Ta ”
” Enggak, aku akan ngedampingin kamu ”
” Ya, Lo. Aku juga. Sorry ya kalau kemarin-kemarin aku lebih mentingin Fylla daripada kamu. Dan sekarang aku juga akan ada di samping kamu. Fylla udah aku putusin, buat apa cewek seperti itu. Aku nggak mau di kekang sama dia ” ujar Bara sambil menangis yang tiba-tiba datang menghampiriku dan Reta.

* * *

Malam ini aku berencana ngundang Bara dan Reta untuk datang ke rumahku. Nggak tau kenapa malam ini aku ingin banget ngeliat wajah mereka.
” Lo ” sapa mereka yang datang bareng dengan air mata yang masih ada di pipi mereka. Tapi aku tetep salut, walaupun ada air mata tapi masih ada senyum di wajah mereka.
” Makasih ya kalian udah mau datang ke rumahku ” kataku sambil tersenyum.
Langsung aku ajak dinner mereka sama orang tuaku. Setelah dinner, Reta mengajak aku buat melihat bintang di taman. Sampai di sana, aku dan Reta duduk di sebuah bangku yang terbuat dari semen.
” Ta ” kataku.
” Ya, Lo. Kenapa?? ” tanya dia sambil menangis.
” Kamu kenapa?? Aku nggak mau liat kamu sedih ” ucapku sambil menghapus beberapa tetesan air mata di pipinya.
” Makasih, Lo ” katanya yang kemudian menaruh kepalanya di bahuku.
” Aku yang seharusya berterima kasih. Kamu udah setia ma aku “
“ Lo, tiap aku pacaran aku selalu berjanji sama diri aku sendiri. Aku bakalan sayang sama pacar aku, walaupun ada rintangan yang memisahkan. Tapi aku selalu sayang sama pacar aku itu. Nggak beda sama kamu. Kamu juga selalu aku sayang dalam suka atau duka. Aku trima kamu apa adanya. Aku sayang sama kamu, Lo ” katanya.
Setelah aku mendengar itu aku nggak ngrasain apa-apa. Hanya gelap gulita yang aku liat. Tak ada sedikitpun bunyi yang terdengar di telingaku. Mulutku sulit buat di gerakkan dan dada rasanya seperti diikat kencang oleh seutas tali. Apa ini yang namanya ajal??

* end *

cerpen satu : RISALAH CINTA  

Posted by b i a n


Aku Dira, seorang remaja cewek kelas 2 SMA yang sampai saat ini belum pernah punya 1 pacar pun. Betapa nelangsanya diriku??? Apa mungkin gara-gara body ku yang nggak keren?? Atau gara-gara rambutku yang panjang dan agak curly ini?? Apalah itu?? Tapi, di sisiku masih ada Lyla, sahabat kecilku yang selalu ada buatku. Memang kalau masalah body aku kalah dengannya, tapi soal brain, aku lebih unggul dari dia. Rumah kami bersambung, jadi kami seperti 1 keluarga. Aku juga punya sahabat lain, namanya Reymond. Biasa aku panggil Rey. Umurnya 3 tahun di atas aku dan Lyla. Dia tinggal di Eropa ikut kedua orang tuanya. 10 tahun sudah dia pergi, tapi belum ada juga kabar dari dia untuk pulang. Ya, udah 10 tahun juga aku memendam rasa sayangku dengannya.  Kangen rasanya hatiku ingin ketemu dengannya. Cuma dengan email aja aku bisa  berhubungan sama dia. Itu pun aku ngaku-ngaku sebagai Lyla, agar dia bales email dari aku. Tapi ssssssssssttt yaa, yang tau tentang rasa cintaku  dan kebohonganku cuma aku, kamu dan Tuhan. Lyla aja nggak tau, soalnya kalau Lyla sampai tau, pasti dia akan ngira aku plin-plan. Daridulu aku Cidaha dengan Rey, dalam hati ku sayang tapi mau bagaimana lagi?? Aku harus diam soal cintaku, karena aku tahu Rey dari kecil sayang sama Lyla. Akupun di minta bantuin dia untuk ngedapetin Lyla. Tapi Lyla tetep nolak Rey. Ya karena Rey kecil gendut dan cabi gitu. Ough ya, kami bertiga punya kalung persahabatan. Kalung itu masing-masing ada liontin abstraknya. Jika tiga liontin disatuin, akan menjadi satu liontin yang berbentuk lingkaran dan di setiap potong liontin ini ada inisial nama kami.

* * *

” Dir, email-an sama siapa kamu?? ” tanya Lyla saat aku sedang keasyikan email-an sama Rey.
” Rey ”
” Rey??? Si pipi cabi itu??? Ngapain kamu email-emailan sama dia?? Kurang kerjaan aja?? ”
” Ya, dia kan juga sahabat kita. Eh ya La, dia nanyain kamu ne ”
” Nggak penting. Terserah kamu mau jawab apa ” ucap Lyla sambil keluar dari kamarku.
” Hah?? ” kagetku sambil melototkan mataku saat kutahu Rey akan pulang. Aku memang pengen dia pulang, tapi aku khawatir bagaimana kalau dia tahu tentang kedustaanku selama ini?? Bagaimana kalau ternyata yang emailan sama dia bukan cewek yang dia suka?? Bakalan mati berdiri aku. Bakalan di benci aku sama dia. Semaleman aku tidak tidur, tidak belajar pula, hanya memikirkan masalah Rey akan pulang. Ternyata satu-satunya cara agar kebohonganku tidak terbongkar aku harus minta Lyla untuk bohong sama Rey. Tapi Lyla mau nggak ya??
” Pagii La ” sapaku saat aku ketemu Lyla di kantin sekolah yang penuh dengan khalayak itu.
” Pagii juga Dir. Kenapa?? Tampang kamu kucel gitu?? ” jawab Lyla.
” Aku bisa minta tolong?? ”
” Dir, kita udah 10 tahun lebih bersahabat. Kenapa kamu harus minta tolong?? Tanpa minta tolongpun, aku bakalan bantu kok, kalau aku bisa. Minta tolong apa?? ” jelas Lyla dengan tersenyum.
” Aku udah bohong sama Rey. Selama ini aku email-emailan dengan dia atas nama kamu ”
” Apa?? ” Lyla kaget dengan menajamkankan matanya ke arah mataku.
” La, maafin aku. Aku tahu bohong itu dosa tapi aku seperti itu biar dia balas email dari aku. Aku pengen tahu kabar dia  ” kataku yang merengek kepada Lyla.
” Terus?? Apa masalahnya ?? ”  tanya Lyla kepadaku yang sedang khawatir dan ketakutan.
” La, beberapa hari lagi Rey akan pulang. Aku takut La, kalau dia sampai benci aku. Makanya aku mau kamu ngaku sama Rey kalau yang emailan sama dia itu kamu ” jelasku.
” Dir, kok kamu malah ngelibatin aku sih?? Aku kan nggak tau apa-apa ”
” Maafin aku La !!! ”
Lyla pergi dari hadapanku dengan membawa amarahnya yang membara. Aku takut kalau dalam sekejap aku kehilangan 2 sahabatku. Dalam lamunanku, tiba-tiba ada seorang cowok cakep yang memegang bahuku. Sambil berkata ” Hei !!! ”. Aku keget. Rasanya aku nggak pernah kenal sama cowok ini, tapi rasanya dia nggak asing buatku. Akupun menyahuti sapaannya.
” Heii juga. Maaf, anda siapa ya ?? ” tanyaku keheranan.
” Dira?? ” jawabnya, sepertinya kenal denganku.
” Betul. Anda siapa ya?? ” tanyaku lagi dengan keherananku yang semakin banyak.
” Aku Rey temen kecil kamu. Aku baru pulang dari Eropa ” jawabnya heboh.
” Apa?? Rey?? Reymond?? ”
” Ya, aku Reymond. Aku kangen kamu. Sama Lyla juga “ katanya sambil memeluk tubuhku yang masih nggak percaya kalau itu Reymond, temen kecilku dulu. ” Dir?? ” panggilnya kepadaku.
” Apa?? Kamu Rey beneran ?? ” tanyaku dengan ketidakkepercayaanku.
” Ya. Kamu nggak percaya?? Ni, kalung persahabatan kita ” jawabnya sambil memperlihatkan kalung persahabatan kami. Akhirnya aku percaya.
’ Wow, ternyata Rey dewasa tambah cakep ’ bisikku dalam hati. Menambah besarnya cintaku sama dia aja. Aku belum puas ngobrol dengannya, tapi bel masuk udah berbunyi.
” Bel tu. Aku pulang dulu. Ntar kamu ma Lyla aku jemput. Aku pengeeeeeeeeeeeeeeen banget ketemu sama dia ” kata Rey.

* * *

Bahasa Indonesia, pelajaran yang paling aku suka. Tiap pelajaran ini, aku selalu memperhatiin, karena besok aku mau ambil jurusan sastra kalau kuliah, tapi kali ini aku tinggal ngobrol dengan Lyla. Aku harus bisa membujuk Lyla biar dia mau ngaku sama Rey.
” La, gawat ni ” kataku sambil bisik-bisik. Kalau enggak, gurunya bakalan marah. Guru Bahasa Indonesiaku ini terkenal dengan kekillerannya.
” Kenapa?? ” jawab Lyla yang cuek dan terlihat masih marah ma aku.
” La, Rey uda pulang ”
” Terus?? ”
” Kamu bisa kan ngabulin permintaan aku tadi?? ”
” Tau deh !!! ” jawabnya sangat ketus.
Huh, Lyla sepertinya masih marah. Gimana ni kalau Lyla nggak mau?? Aku bakalan mati berdiri beneran ne. Dari kecil, kalau Rey marah nggak ada yang bisa buat nenangin dia.

* * *

Sepulang sekolah, dengan kebingunganku yang masih ada dalam otakku, aku keluar dari sekolah dan terlihat ada Lyla sedang ngobrol dengan cowok. ”Siapa tu cowok?? Hah?? Rey?? ” kataku dengan kaget. Betapa terkejutnya aku ketika melihat yang diajak ngobrol Lyla itu Rey. Aku takut, semuanya terbongkar. Aku belum siap. Akupun langsung menuju ke arah mereka ngobrol. Semoga aja semuanya belum terlambat.
  Syaaang semua !!! ” sapaku.
” Siang juga, Dir ” jawab Rey dengan senyumnya yang menawan, sampai meluruhkan hatiku. Wuah, senengnya.
” Siang juga, Dir ” jawab Lyla yang rasanya udah nggak marah ma aku.
” La, kamu udah tau siapa dia?? ” tanyaku keheranan.
” Udahlah. Masak ma cowok ini aku lupa ” jawab Lyla sambil tersenyum ceria. Aku melihat ada rasa suka di mata Lyla. Jangan-jangan Lyla udah suka sama Rey??
” Dir, kenapa kamu nggak pernah email aku?? kenapa yang email aku Lyla terus?? ” tanya Rey.
” Soalnya Dira kan belajar, belajar dan belajar. Jadi, nggak sempet deh buka email. Ya nggak Dir?? ” sahut Lyla yang kemudian berbisik kepadaku ” Tenang aja, aku uda ngaku kok. Jadi kamu nggak perlu khawatir soal kebohongan itu ”.
Aku merasa tenang sekejap, akhirnya kebingungan dan ketakutanku hilang. Tapi rasa khawatir yang kembali muncul, gimana kalau sekarang Lyla suka Rey??
Kami bertiga pulang, di ruang tamu sudah ada ortu Rey, ortuku dan juga ayah Lyla. Mungkin mereka juga kangen-kangenan, maklum lama nggak ketemu.
” Siang, Tante, Om ” sapaku bareng Lyla.
” Siang juga ” jawab Om Tirta dan Tante Wida, ortu Rey.
” Mana ini yang Lyla?? Dan mana yang Dira?? ” tanya Tante Wida.
” Saya Dira tante. Dan ini Lyla ” jawabku.
” Udah cantik-cantik ya sekarang. Tidak seperti waktu kecil ” kata Om Tirta sambil tertawa.
” Sekarang kita masuk. Kita siap-siap buat nanti malem ” kata Om Rimba, ayah Lyla. Lyla udah nggak punya mama. Udah 5 tahun yang lalu, mama Lyla meninggal. Dan sekarang, ayah Lyla udah sakit-sakitan. Kalau sampai ayah Lyla meninggal, bakalan hancur hidup Lyla.
” Ouh ya, nanti malem kita pesta kecil-kecilan di taman belakang buat ngrayain pulangnya keluarga Om Tirta. Setelah 10 tahun nggak pulang ” kata mamaku, Shella.
Kami masuk, sepertinya aku bakalan sendiri lagi. Rey dengan Lyla udah semakin akrab lagi. Tapi, aku nggak boleh sedih, mereka sahabatku yang selalu di sampingku dan aku harus berusaha seneng dengan ini semua. Nggak mungkin aku nunjukin rasa sedih dan rasa cemburu aku ini.

* * *

Malem ini, keluargaku, keluarga Rey dan keluarga Lyla akan pesta kecil-kecilan di taman belakang rumah kami. Asyik, tapi sayangnya aku sendiri. Rey dan Lyla asyik ngobrol berdua. Jadi BT deh.
” Semuanya, Dira ke kamar dulu ya. Udah malem ” kataku yang pamit dari hadapan mereka. Aku nggak tahan melihat Lyla dan Rey berdua.
” Hloh Dir, kamu mau kemana?? ” tanya Lyla yang kelihatan berseri-seri.
” Aku mau ke kamar dulu. Malem semua ” kataku.
Sampai di kamar aku langsung menuju ke diaryku. Tapi pintu kamarku ada yang mengetuk. ’ Siapa ya??? ’ Tanyaku di dalam hati.
” Dir ” Suara seseorang yang terdengar dari balik pintu. Rasanya aku kenal suara itu. Aku buka. Ternyata Rey dateng.
” Hei manis ” kata gombal dari mulutnya yang keluar buatku.
” Hei juga ” jawabku.
” Kenapa kamu?? Tiba-tiba ke dalem?? ”
” Nggak apa kok. Aku ngantuk, pengen tidur. Met malem ” kataku sambil menutup pintu. Tapi Rey menahan pintu itu sambil berkata ” Dir, kamu kenapa?? ”
” Aku nggak papa. Kamu tenang aja ” kataku tersenyum yang kemudian menutup pintu. Tapi udah nggak ada yang nahan.
” Ya udah. Met malem ” katanya yang terlihat kecewa.

* * *

” Dir, ternyata kalau udah gede si Reymond itu cakep juga ya?? Makasih Dir, kamu udah ngebuka peluang buat aku, sekarang tinggal nglanjutin aja kebohongan ini ” kata Lyla yang sedang ngobrol denganku di taman sekolah.
” Ya, sama-sama ” jawabku.
” Tapi kamu nggak suka kan sama Rey?? ” tanya dia.
” Aku suka kok sama Rey, tapi kamu udah ngrebut dia dari aku.............Bercanda, nggak mungkin aku suka Rey. Aku cuma anggep dia sahabat aja ” candaku yang buat Lyla heran.
” Untung deh, kalau kamu nggak suka. Kalau kamu suka, kamu akan jadi sainganku ” kata Lyla sambil tersenyum girang.
’ Theeeeeeeeet-theeeeeeeeet ’ Bunyi bel masuk sekolah uda manggil tu, aku dan Lyla segera ke kelas.

* * *

Siang hari, saat aku dan Lyla pulang sekolah, ada Rey di depan rumah. Rasanya dia mau menyambut kita berdua. Tapi sayang, cuma Lyla yang di sambutnya. Aku di tinggalin di depan rumah.
” Hei La ” sapa dia sambil menggandeng Lyla buat masuk. Nggak ada sedikit sapaan pun buat aku. Sekejap aku diam terpaku. Sehembus angin menyadarkanku. ’ berpikir apa aku ini, aku kan mau bikin mereka jadian. Walaupun aku harus ngorbanin perasaanku,  tapi aku harus tetep berusaha. ’. Masuklah aku ke dalam. Di dalem ada suara dari arah ruang keluarga. Sepertinya itu obrolan orang tua kami. Walaupun lirih, aku mendengar kalau akan dilaksanakan pertunangan antara Rey dan Lyla. Betapa terkejutnya aku. Seolah semua syaraf ku berhenti.
” Dir ” sapa Lyla dari belakangku yang menyadarkanku dari lamunanku.
” Eih, La, Rey ” jawabku sambil membalikkan tubuh kurusku.
” Kamu ngapain di situ?? “ tanya Rey.
“ Enggak. Aku nggak papa kok. Kalian mau pergi?? ” kataku.
” Ya. Mau ikut Dir?? Kami mau cari baju buat Rey ” jawab Lyla.
” Kamu nggak mau ikutkan Dir?? ” tanya Rey kepadaku. Rey udah kasih kode tu, kayaknya Rey nggak akan suka kalau aku ikut. Mending di rumah aja.
” Enggak, La. Makasih. Aku ke kamar dulu ya ” kataku.
Aku menuju ke kamar dengan muka sedihku. Hari ini rasanya hari sedihku. Kapan aku bisa seneng?? Tapi aku tetep positive thinking, aku juga akan punya kebahagiaan dari Tuhan.

* * *

” Pas sekali, kalian ada di sini. Saya akan bilang sama kalian semua. Minggu depan Rey dan Lyla akan tunangan ” kata Tante Wida.
Aku sedih sekali. Tapi, di wajah Rey dan Lyla tidak ada sedikitpun raut wajah yang memperlihatkan kesedihan. Mereka malah hanyut dalam kebahagiaan, aku usaha buat ikutan seneng aja. Kalau aku memperlihatkan kesedihanku pasti semua akan ngira kalau aku nggak suka Rey dan Lyla tunangan.
” Aku seneng banget, Rey ” kata Lyla.
” Aku juga. Dari kecil aku suka sama kamu tapi kamu nggak pernah ngrespon aku. Tapi makasih, sekarang kamu udah bisa trima aku ” kata Rey.
Tunangan?? Aku rasa aku belum denger Rey dan Lyla jadian, tapi kenapa tiba-tiba mereka akan tunangan. Di saat orang tua kami tidur, aku menuju ke kamar Lyla, di situ masih ada Rey.
” Hai, Rey. Hai, La ” sapaku setelah aku masuk ke kamar Lyla. Semoga aku nggak ganggu mereka.
” Hai Dir ” mereka menjawab sapaanku secara bersamaan.
” Mau ngapain, Dir?? ” tanya Rey yang seolah tidak suka dengan kedatanganku ke kamar Lyla.
” Sayang, kamu keluar dulu ya. Mungkin Dira mau curhat sama Masalah cewek ” kata Lyla. Sakiiiit banget ketika mendengar kata Sayang dari mulut Lyla. Mereka udah semakin lengket kayak perangko yang di lem pake lem Castol.
” Ya sayang ” kata Rey yang kemudian meninggalkan aku ma Lyla.
” La, aku mau tanya ”
” Tanya apa Dir?? ” kata Lyla.
” Kamu udah jadian sama Rey?? ” tanyaku yang ketakutan kalau Lyla marah.
” Udah. Baru tadi siang. Pas kami jalan tadi. Kata Rey, sebelumnya, dia udah minta orang tuanya buat nglamar aku. Kenapa Dir?? ” jawab Lyla yang kemudian bertanya kepadaku.
” Nggak papa kok. Aku keluar dulu. Apa perlu aku panggilin Rey ke sini?? ”
” Nggak usah. Aku Mau tidur aja. Kalau dia tanya, bilang aja aku udah tidur ”
Aku keluar dengan wajah 50% seneng dan 50% sedih. Di dalam kamarku, udah ada Rey yang duduk di tempat tidurku sambil membaca sebuah buku berwarna pink.
” Dir ” panggil Rey kepadaku.
” Hai, Rey ” jawabku dengan senyuman ramahku.
” Apa isi diary ini bener?? ” tanya dia yang membuatku gugup.
” Kamu baca diary aku?? “ tanyaku yang balik nanya kepadanya.
” Apa salahnya?? Aku kan sahabat kamu?? ”
” Rey, diary ini privacy aku. Walaupun kamu sahabat aku, tapi nggak semestinya kamu baca. Lyla aja nggak pernah baca diary ku“ marahku kepadanya.
“ Sekarang kamu jawab pertanyaan aku. Apa diary ini bener?? ” tanya dia dengan pandangan mata yang dalam. Aku nggak tahan dengan tatapan matanya yang bagai busur panah itu. Akhirnya aku mengaku.
” Ya. Semua dalam diary itu bener “ jawabku.
“ Jadi, kamu suka aku?? Dan selama ini yang emailan sama aku itu kamu?? ”
” Ya. Aku suka kamu dari kecil tapi kamu nggak pernah ngrespon cinta aku. Yang ada dalam hati kamu cuma Lyla, Lyla dan Lyla. Nggak pernah kamu sedikitpun memperhatiin aku. Soal email itu benar, yang selama ini emailan sama kamu itu aku, bukan Lyla. Aku takut, kalau atas namaku, kamu nggak bales email aku. Sekarang udah puas kan kamu?? ”
” Kenapa kamu nggak ngomong dari dulu?? ”
” Percuma, aku ngomong dari dulu, kamu juga nggak bakal kan nanggepin cinta aku?? Udahlah Rey. Kamu sekarang adalah calon tunangan Lyla. Anggep aja diary ini nggak ada. Lupakan. Sekarang kamu keluar dari kamarku  ” jelasku yang kemudian mengusirnya dengan amarahku.
” Tapi Dir . . . . ”
” Nggak ada tapi-tapian, lupakan semua Rey ”
Aku berusaha nahan air mataku. Setidaknya sampai Rey keluar dari kamar aku. Setelah Rey keluar, aku menangis. Semua air mataku sepertinya akan keluar malam ini. Aku nggak tahan, aku pengen nangis, aku pengen triak, biar semua rasa sedihku bisa ilang.

* *  *

Malem pertunangan Lyla dan Rey tiba. Aku di kamar sendiri sambil melihat foto-foto kami bertiga yang ada di dalam Nokiaku. Rasanya pengen nangis tapi apa coba pengaruhnya buat mereka?? Tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. ’ Tok Tok Tok ’, sebelum aku persilahkan, si pengetuk itu sudah masuk kamarku gitu aja.
” Dir ” kata Rey setelah masuk ke kamarku dan menutup pintunya.
” Kenapa, Rey?? Bukannya kamu mau tunangan?? ” tanyaku dengan ketus.
” Aku ragu dengan pertunangan ini. Aku ngrasa aku sayang sama kamu. Aku akan batalin pertunangan ini. Kalaupun jadi, aku tunangan sama kamu, bukan sama Lyla ”
” Gila kamu. Kamu tu mau tunangan sama Lyla malem ini. Bukan sama aku. Aku juga nggak mau nyakitin hati dia, Rey ”
” Aku sayang sama kamu. Aku sadar waktu kecil aku emang cinta gila sama Lyla. Tapi aku sadar aku ternyata aku sayang sama orang yang emailan sama aku. Yang tiap hari perhatian sama aku. Yang selalu mengingat semua tentang aku. Aku nggak butuh Lyla, aku butuh kamu ” Kata Rey sambil memegang tanganku dan menatap mataku tajam, yang kemudian memasung mulutku. Sampai-sampai aku nggak bisa ngomong sepatah katapun. Tanpa aku dan Rey sadari, ternyata ada Lyla di depan pintu dan langsung masuk ke kamarku. Seketika aku dan Rey kaget.
” Lyla ” kagetku bersamaan dengan Rey.
” Dir, Rey, kalau kalian saling sayang. Aku nggak papa kok. Lagian kaliankan juga sahabatku. Aku sadar Rey, waktu kecil emang aku cuek gitu aja sama kamu, karena kamu dulu nggak seperti ini. Dulu kamu gendut, bukan selera aku banget. Tapi setelah kamu pulang dari Eropa, aku ngrasa suka sama kamu. Nggak tau suka karena cinta beneran atau cuma cinta sesaatku aja. Sekarang aku udah tau, itu semua cinta sesaatku aja. Dan aku pengen yang tunangan kalian. Rey dan Dira, bukan dengan aku ” bijak Lyla sambil tersenyum kepadaku dan Rey.
” Tapi, La... ” kataku yang kemudian di potong sama Lyla.
” Udah. Nggak usah tapi-tapian. Aku rela kok, Dir. Aku ikhlas dan aku juga nggak akan dendam sama kalian. Toh, masih banyak cowok di dunia ini. Ya nggak?? ” kata Lyla yang membuat aku dan Rey bernapas lega, dan kemudian tersenyum. Saat itu juga kami bertiga berpelukan.
Akhirnya malam itu aku dan Rey bertunangan, walaupun kami nggak tau kapan waktu pernikahan itu tiba. Betapa bahagianya aku, cowok yang selama ini aku idam-idamkan sekarang udah jadi milik aku. Walaupun hanya tunangan. Thanks God....

* end *