Aku Dira, seorang remaja cewek kelas 2 SMA yang sampai
saat ini belum pernah punya 1 pacar pun. Betapa
nelangsanya diriku??? Apa mungkin gara-gara body ku yang nggak keren?? Atau gara-gara
rambutku yang panjang dan agak curly ini?? Apalah itu?? Tapi, di sisiku
masih ada Lyla, sahabat kecilku yang selalu ada buatku. Memang kalau masalah body aku kalah dengannya, tapi soal brain, aku lebih unggul dari
dia. Rumah kami bersambung, jadi kami seperti 1 keluarga. Aku juga punya sahabat
lain, namanya Reymond. Biasa aku panggil Rey. Umurnya 3 tahun di atas aku dan
Lyla. Dia tinggal di Eropa ikut kedua orang tuanya. 10 tahun sudah dia pergi,
tapi belum ada juga kabar dari dia untuk pulang. Ya, udah 10 tahun juga aku
memendam rasa sayangku dengannya. Kangen
rasanya hatiku ingin ketemu dengannya. Cuma dengan email aja aku bisa berhubungan sama dia. Itu pun
aku ngaku-ngaku sebagai Lyla, agar dia bales email dari aku. Tapi ssssssssssttt yaa, yang
tau tentang rasa cintaku dan
kebohonganku cuma aku, kamu dan Tuhan. Lyla aja nggak tau, soalnya kalau Lyla
sampai tau, pasti dia akan ngira aku plin-plan. Daridulu aku Cidaha dengan Rey, dalam hati ku sayang tapi
mau bagaimana lagi?? Aku harus diam soal cintaku, karena aku tahu Rey dari
kecil sayang sama Lyla. Akupun di minta bantuin dia untuk ngedapetin Lyla. Tapi
Lyla tetep nolak Rey. Ya karena Rey kecil gendut dan cabi gitu. Ough ya, kami
bertiga punya kalung persahabatan. Kalung itu masing-masing ada liontin
abstraknya. Jika tiga liontin disatuin, akan menjadi satu liontin yang
berbentuk lingkaran dan di setiap potong liontin ini ada inisial nama kami.
* * *
” Dir, email-an
sama siapa kamu?? ” tanya Lyla saat aku sedang keasyikan email-an sama Rey.
” Rey ”
” Rey??? Si pipi cabi itu??? Ngapain kamu email-emailan sama dia?? Kurang kerjaan aja?? ”
” Ya, dia kan juga sahabat kita. Eh ya La, dia nanyain kamu ne ”
” Nggak penting. Terserah kamu mau jawab apa ” ucap Lyla
sambil keluar dari kamarku.
” Hah?? ” kagetku sambil melototkan mataku saat kutahu
Rey akan pulang. Aku memang pengen dia pulang, tapi aku khawatir bagaimana
kalau dia tahu tentang kedustaanku selama ini?? Bagaimana kalau ternyata yang emailan sama dia bukan cewek yang dia suka??
Bakalan mati berdiri aku. Bakalan di benci aku sama dia. Semaleman aku tidak
tidur, tidak belajar pula, hanya memikirkan masalah Rey akan pulang. Ternyata
satu-satunya cara agar kebohonganku tidak terbongkar aku harus minta Lyla untuk
bohong sama Rey. Tapi Lyla mau nggak ya??
” Pagii La ” sapaku saat aku ketemu Lyla di kantin
sekolah yang penuh dengan khalayak itu.
” Pagii juga Dir. Kenapa?? Tampang kamu kucel gitu?? ”
jawab Lyla.
” Aku bisa minta tolong?? ”
” Dir, kita udah 10 tahun lebih bersahabat. Kenapa kamu
harus minta tolong?? Tanpa minta tolongpun, aku bakalan bantu kok, kalau aku
bisa. Minta tolong apa?? ” jelas Lyla dengan tersenyum.
” Aku udah bohong sama Rey. Selama ini aku email-emailan dengan dia atas nama kamu ”
” Apa?? ” Lyla kaget dengan menajamkankan matanya ke arah
mataku.
” La, maafin aku. Aku tahu bohong itu dosa tapi aku
seperti itu biar dia balas email dari aku. Aku pengen tahu kabar dia ” kataku yang merengek kepada
Lyla.
” Terus?? Apa masalahnya ?? ” tanya Lyla kepadaku yang sedang
khawatir dan ketakutan.
” La, beberapa hari lagi Rey akan pulang. Aku takut La,
kalau dia sampai benci aku. Makanya aku mau kamu ngaku sama Rey kalau yang emailan sama dia itu kamu ” jelasku.
” Dir, kok kamu malah ngelibatin aku sih?? Aku kan nggak
tau apa-apa ”
” Maafin aku La !!! ”
Lyla pergi dari hadapanku dengan membawa amarahnya yang
membara. Aku takut kalau dalam sekejap aku kehilangan 2 sahabatku. Dalam
lamunanku, tiba-tiba ada seorang cowok cakep yang memegang bahuku. Sambil
berkata ” Hei !!! ”. Aku keget. Rasanya aku nggak pernah kenal sama cowok ini,
tapi rasanya dia nggak asing buatku. Akupun menyahuti sapaannya.
” Heii juga. Maaf, anda siapa ya ?? ” tanyaku keheranan.
” Dira?? ” jawabnya, sepertinya kenal denganku.
” Betul. Anda siapa ya?? ” tanyaku lagi dengan
keherananku yang semakin banyak.
” Aku Rey temen kecil kamu. Aku baru pulang dari Eropa ”
jawabnya heboh.
” Apa?? Rey??
Reymond?? ”
” Ya, aku
Reymond. Aku kangen kamu. Sama Lyla juga “ katanya sambil memeluk tubuhku yang
masih nggak percaya kalau itu Reymond, temen kecilku dulu. ” Dir?? ” panggilnya
kepadaku.
” Apa?? Kamu Rey
beneran ?? ” tanyaku dengan ketidakkepercayaanku.
” Ya. Kamu nggak percaya?? Ni, kalung persahabatan kita ”
jawabnya sambil memperlihatkan kalung persahabatan kami. Akhirnya aku percaya.
’ Wow, ternyata Rey dewasa tambah cakep ’ bisikku dalam
hati. Menambah besarnya cintaku sama dia aja. Aku belum puas ngobrol dengannya,
tapi bel masuk udah berbunyi.
” Bel tu. Aku pulang dulu. Ntar kamu ma Lyla aku jemput.
Aku pengeeeeeeeeeeeeeeen banget ketemu sama dia ” kata Rey.
* * *
Bahasa Indonesia, pelajaran yang paling aku suka. Tiap
pelajaran ini, aku selalu memperhatiin, karena besok aku mau ambil jurusan
sastra kalau kuliah, tapi kali ini aku tinggal ngobrol dengan Lyla. Aku harus
bisa membujuk Lyla biar dia mau ngaku sama Rey.
” La, gawat ni ” kataku sambil bisik-bisik. Kalau enggak,
gurunya bakalan marah. Guru Bahasa Indonesiaku ini terkenal dengan kekillerannya.
” Kenapa?? ” jawab Lyla yang cuek dan terlihat masih
marah ma aku.
” La, Rey uda pulang ”
” Terus?? ”
” Kamu bisa kan ngabulin permintaan aku tadi?? ”
” Tau deh !!! ” jawabnya sangat ketus.
Huh, Lyla sepertinya masih marah. Gimana ni kalau Lyla
nggak mau?? Aku bakalan mati berdiri beneran ne. Dari kecil, kalau Rey marah
nggak ada yang bisa buat nenangin dia.
* * *
Sepulang sekolah, dengan kebingunganku yang masih ada
dalam otakku, aku keluar dari sekolah dan terlihat ada Lyla sedang ngobrol
dengan cowok. ”Siapa tu cowok?? Hah?? Rey?? ” kataku dengan kaget. Betapa
terkejutnya aku ketika melihat yang diajak ngobrol Lyla itu Rey. Aku takut,
semuanya terbongkar. Aku belum siap. Akupun langsung menuju ke arah mereka
ngobrol. Semoga aja semuanya belum terlambat.
” Syaaang
semua !!! ” sapaku.
” Siang juga, Dir ” jawab Rey dengan senyumnya yang
menawan, sampai meluruhkan hatiku. Wuah, senengnya.
” Siang juga, Dir ” jawab Lyla yang rasanya udah nggak
marah ma aku.
” La, kamu udah tau siapa dia?? ” tanyaku keheranan.
” Udahlah. Masak ma cowok ini aku lupa ” jawab Lyla
sambil tersenyum ceria. Aku melihat ada rasa suka di mata Lyla. Jangan-jangan
Lyla udah suka sama Rey??
” Dir, kenapa kamu nggak pernah email aku?? kenapa yang email aku Lyla terus?? ” tanya Rey.
” Soalnya Dira kan belajar, belajar dan belajar. Jadi,
nggak sempet deh buka email.
Ya nggak Dir?? ” sahut Lyla yang kemudian berbisik kepadaku ” Tenang aja, aku
uda ngaku kok. Jadi kamu nggak perlu khawatir soal kebohongan itu ”.
Aku merasa tenang sekejap, akhirnya kebingungan dan
ketakutanku hilang. Tapi rasa khawatir yang kembali muncul, gimana kalau
sekarang Lyla suka Rey??
Kami bertiga pulang, di ruang tamu sudah ada ortu Rey,
ortuku dan juga ayah Lyla. Mungkin mereka juga kangen-kangenan, maklum lama
nggak ketemu.
” Siang, Tante, Om ” sapaku bareng Lyla.
” Siang juga ” jawab Om Tirta dan Tante Wida, ortu Rey.
” Mana ini yang Lyla?? Dan mana yang Dira?? ” tanya Tante
Wida.
” Saya Dira tante. Dan ini Lyla ” jawabku.
” Udah cantik-cantik ya sekarang. Tidak seperti waktu
kecil ” kata Om Tirta sambil tertawa.
” Sekarang kita masuk. Kita siap-siap buat nanti malem ”
kata Om Rimba, ayah Lyla. Lyla udah nggak punya mama. Udah 5 tahun yang lalu,
mama Lyla meninggal. Dan sekarang, ayah Lyla udah sakit-sakitan. Kalau sampai
ayah Lyla meninggal, bakalan hancur hidup Lyla.
” Ouh ya, nanti malem kita pesta kecil-kecilan di taman
belakang buat ngrayain pulangnya keluarga Om Tirta. Setelah 10 tahun nggak
pulang ” kata mamaku, Shella.
Kami masuk, sepertinya aku bakalan sendiri lagi. Rey
dengan Lyla udah semakin akrab lagi. Tapi, aku nggak boleh sedih, mereka
sahabatku yang selalu di sampingku dan aku harus berusaha seneng dengan ini
semua. Nggak mungkin aku nunjukin rasa sedih dan rasa cemburu aku ini.
* * *
Malem ini, keluargaku, keluarga Rey dan keluarga Lyla
akan pesta kecil-kecilan di taman belakang rumah kami. Asyik, tapi sayangnya
aku sendiri. Rey dan Lyla asyik ngobrol berdua. Jadi BT deh.
” Semuanya, Dira ke kamar dulu ya. Udah malem ” kataku
yang pamit dari hadapan mereka. Aku nggak tahan melihat Lyla dan Rey berdua.
” Hloh Dir, kamu mau kemana?? ” tanya Lyla yang kelihatan
berseri-seri.
” Aku mau ke kamar dulu. Malem semua ” kataku.
Sampai di kamar aku langsung menuju ke diaryku. Tapi pintu kamarku ada
yang mengetuk. ’ Siapa ya??? ’ Tanyaku di dalam hati.
” Dir ” Suara seseorang yang terdengar dari balik pintu.
Rasanya aku kenal suara itu. Aku buka. Ternyata Rey dateng.
” Hei manis ” kata gombal dari mulutnya yang keluar
buatku.
” Hei juga ” jawabku.
” Kenapa kamu?? Tiba-tiba ke dalem?? ”
” Nggak apa kok. Aku ngantuk, pengen tidur. Met malem ”
kataku sambil menutup pintu. Tapi Rey menahan pintu itu sambil berkata ” Dir,
kamu kenapa?? ”
” Aku nggak papa. Kamu tenang aja ” kataku tersenyum yang
kemudian menutup pintu. Tapi udah nggak ada yang nahan.
” Ya udah. Met malem ” katanya yang terlihat kecewa.
* * *
” Dir, ternyata kalau udah gede si Reymond itu cakep juga
ya?? Makasih Dir, kamu udah ngebuka peluang buat aku, sekarang tinggal
nglanjutin aja kebohongan ini ” kata Lyla yang sedang ngobrol denganku di taman
sekolah.
” Ya, sama-sama ” jawabku.
” Tapi kamu nggak suka kan sama Rey?? ” tanya dia.
” Aku suka kok sama Rey, tapi kamu udah ngrebut dia dari
aku.............Bercanda, nggak mungkin aku suka Rey. Aku cuma anggep dia
sahabat aja ” candaku yang buat Lyla heran.
” Untung deh, kalau kamu nggak suka. Kalau kamu suka,
kamu akan jadi sainganku ” kata Lyla sambil tersenyum girang.
’ Theeeeeeeeet-theeeeeeeeet ’ Bunyi bel masuk sekolah uda
manggil tu, aku dan Lyla segera ke kelas.
* * *
Siang hari, saat aku dan Lyla pulang sekolah, ada Rey di
depan rumah. Rasanya dia mau menyambut kita berdua. Tapi sayang, cuma Lyla yang
di sambutnya. Aku di
tinggalin di depan rumah.
” Hei La ” sapa dia sambil menggandeng Lyla buat masuk. Nggak ada sedikit sapaan pun buat aku.
Sekejap aku diam terpaku. Sehembus angin menyadarkanku. ’ berpikir apa aku ini,
aku kan mau bikin mereka jadian. Walaupun aku harus ngorbanin perasaanku, tapi aku harus tetep berusaha.
’. Masuklah aku ke dalam. Di dalem ada suara dari arah ruang keluarga.
Sepertinya itu obrolan orang tua kami. Walaupun lirih, aku mendengar kalau akan
dilaksanakan pertunangan antara Rey dan Lyla. Betapa terkejutnya aku. Seolah
semua syaraf ku berhenti.
” Dir ” sapa Lyla dari belakangku yang menyadarkanku dari
lamunanku.
” Eih, La, Rey ” jawabku sambil membalikkan tubuh
kurusku.
” Kamu ngapain di situ?? “ tanya Rey.
“ Enggak. Aku nggak papa kok. Kalian mau pergi?? ”
kataku.
” Ya. Mau ikut Dir?? Kami mau cari baju buat Rey ” jawab
Lyla.
” Kamu nggak mau ikutkan Dir?? ” tanya Rey kepadaku. Rey
udah kasih kode tu, kayaknya Rey nggak akan suka kalau aku ikut. Mending di
rumah aja.
” Enggak, La. Makasih. Aku ke kamar dulu ya ” kataku.
Aku menuju ke kamar dengan muka sedihku. Hari ini rasanya
hari sedihku. Kapan aku bisa seneng?? Tapi aku tetep positive thinking, aku juga akan punya kebahagiaan
dari Tuhan.
* * *
” Pas sekali, kalian ada di sini. Saya akan bilang sama
kalian semua. Minggu depan Rey dan Lyla akan tunangan ” kata Tante Wida.
Aku sedih sekali. Tapi, di wajah Rey dan Lyla tidak ada
sedikitpun raut wajah yang memperlihatkan kesedihan. Mereka malah hanyut dalam kebahagiaan,
aku usaha buat ikutan seneng aja. Kalau aku memperlihatkan kesedihanku pasti
semua akan ngira kalau aku nggak suka Rey dan Lyla tunangan.
” Aku seneng banget, Rey ” kata Lyla.
” Aku juga. Dari kecil aku suka sama kamu tapi kamu nggak
pernah ngrespon aku. Tapi makasih, sekarang kamu udah bisa trima aku ” kata
Rey.
Tunangan?? Aku rasa aku belum denger Rey dan Lyla jadian,
tapi kenapa tiba-tiba mereka akan tunangan. Di saat orang tua kami tidur, aku
menuju ke kamar Lyla, di situ masih ada Rey.
” Hai, Rey. Hai, La ” sapaku setelah aku masuk ke kamar
Lyla. Semoga aku nggak ganggu mereka.
” Hai Dir ” mereka menjawab sapaanku secara bersamaan.
” Mau ngapain, Dir?? ” tanya Rey yang seolah tidak suka
dengan kedatanganku ke kamar Lyla.
” Sayang, kamu keluar dulu ya. Mungkin Dira mau curhat
sama Masalah cewek ” kata Lyla. Sakiiiit banget ketika mendengar kata Sayang
dari mulut Lyla. Mereka udah semakin lengket kayak perangko yang di lem pake
lem Castol.
” Ya sayang ” kata Rey yang kemudian meninggalkan aku ma
Lyla.
” La, aku mau tanya ”
” Tanya apa Dir?? ” kata Lyla.
” Kamu udah jadian sama Rey?? ” tanyaku yang ketakutan
kalau Lyla marah.
” Udah. Baru tadi siang. Pas kami jalan tadi. Kata Rey,
sebelumnya, dia udah minta orang tuanya buat nglamar aku. Kenapa Dir?? ” jawab
Lyla yang kemudian bertanya kepadaku.
” Nggak papa kok. Aku keluar dulu. Apa perlu aku
panggilin Rey ke sini?? ”
” Nggak usah. Aku Mau tidur aja. Kalau dia tanya, bilang
aja aku udah tidur ”
Aku keluar dengan wajah 50% seneng dan 50% sedih. Di
dalam kamarku, udah ada Rey yang duduk di tempat tidurku sambil membaca sebuah
buku berwarna pink.
” Dir ” panggil Rey kepadaku.
” Hai, Rey ” jawabku dengan senyuman ramahku.
” Apa isi diary ini bener?? ” tanya dia yang membuatku
gugup.
” Kamu baca diary aku?? “ tanyaku yang balik nanya kepadanya.
” Apa salahnya?? Aku kan sahabat kamu?? ”
” Rey, diary ini privacy aku. Walaupun kamu sahabat aku, tapi
nggak semestinya kamu baca. Lyla aja nggak pernah baca diary ku“ marahku kepadanya.
“ Sekarang kamu
jawab pertanyaan aku. Apa diary ini bener?? ” tanya dia dengan
pandangan mata yang dalam. Aku nggak tahan dengan tatapan matanya yang bagai
busur panah itu. Akhirnya aku mengaku.
” Ya. Semua dalam diary itu bener “ jawabku.
“ Jadi, kamu suka aku?? Dan selama ini yang emailan sama aku itu kamu?? ”
” Ya. Aku suka kamu dari kecil tapi kamu nggak pernah
ngrespon cinta aku. Yang ada dalam hati kamu cuma Lyla, Lyla dan Lyla. Nggak
pernah kamu sedikitpun memperhatiin aku. Soal email itu benar, yang selama ini emailan sama kamu itu aku, bukan Lyla. Aku
takut, kalau atas namaku, kamu nggak bales email aku. Sekarang udah puas kan kamu?? ”
” Kenapa kamu nggak ngomong dari dulu?? ”
” Percuma, aku ngomong dari dulu, kamu juga nggak bakal
kan nanggepin cinta aku?? Udahlah Rey. Kamu sekarang adalah calon tunangan
Lyla. Anggep aja diary ini nggak ada. Lupakan. Sekarang kamu
keluar dari kamarku ”
jelasku yang kemudian mengusirnya dengan amarahku.
” Tapi Dir . . . . ”
” Nggak ada tapi-tapian, lupakan semua Rey ”
Aku berusaha nahan air mataku. Setidaknya sampai Rey
keluar dari kamar aku. Setelah Rey keluar, aku menangis. Semua air mataku
sepertinya akan keluar malam ini. Aku nggak tahan, aku pengen nangis, aku
pengen triak, biar semua rasa sedihku bisa ilang.
* * *
Malem pertunangan Lyla dan Rey tiba. Aku di kamar sendiri sambil melihat
foto-foto kami bertiga yang ada di dalam Nokiaku. Rasanya pengen nangis tapi apa coba
pengaruhnya buat mereka?? Tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. ’ Tok Tok
Tok ’, sebelum aku persilahkan, si pengetuk itu sudah masuk kamarku gitu aja.
” Dir ” kata Rey setelah masuk ke kamarku dan menutup
pintunya.
” Kenapa, Rey?? Bukannya kamu mau tunangan?? ” tanyaku
dengan ketus.
” Aku ragu dengan pertunangan ini. Aku ngrasa aku sayang
sama kamu. Aku akan batalin pertunangan ini. Kalaupun jadi, aku tunangan sama
kamu, bukan sama Lyla ”
” Gila kamu. Kamu tu mau tunangan sama Lyla malem ini.
Bukan sama aku. Aku juga nggak mau nyakitin hati dia, Rey ”
” Aku sayang sama kamu. Aku sadar waktu kecil aku emang
cinta gila sama Lyla. Tapi aku sadar aku ternyata aku sayang sama orang yang
emailan sama aku. Yang tiap hari perhatian sama aku. Yang selalu mengingat
semua tentang aku. Aku nggak butuh Lyla, aku butuh kamu ” Kata Rey sambil
memegang tanganku dan menatap mataku tajam, yang kemudian memasung mulutku.
Sampai-sampai aku nggak bisa ngomong sepatah katapun. Tanpa aku dan Rey sadari,
ternyata ada Lyla di depan pintu dan langsung masuk ke kamarku. Seketika aku
dan Rey kaget.
” Lyla ” kagetku bersamaan dengan Rey.
” Dir, Rey, kalau kalian saling sayang. Aku nggak papa
kok. Lagian kaliankan juga sahabatku. Aku sadar Rey, waktu kecil emang aku cuek
gitu aja sama kamu, karena kamu dulu nggak seperti ini. Dulu kamu gendut, bukan
selera aku banget. Tapi setelah kamu pulang dari Eropa, aku ngrasa suka sama
kamu. Nggak tau suka karena cinta beneran atau cuma cinta sesaatku aja.
Sekarang aku udah tau, itu semua cinta sesaatku aja. Dan aku pengen yang
tunangan kalian. Rey dan Dira, bukan dengan aku ” bijak Lyla sambil tersenyum
kepadaku dan Rey.
” Tapi, La... ” kataku yang kemudian di potong sama Lyla.
” Udah. Nggak usah tapi-tapian. Aku rela kok, Dir. Aku
ikhlas dan aku juga nggak akan dendam sama kalian. Toh, masih banyak cowok di
dunia ini. Ya nggak?? ” kata Lyla yang membuat aku dan Rey bernapas lega, dan
kemudian tersenyum. Saat itu juga kami bertiga berpelukan.
Akhirnya malam itu aku dan Rey bertunangan, walaupun kami
nggak tau kapan waktu pernikahan itu tiba. Betapa bahagianya aku, cowok yang
selama ini aku idam-idamkan sekarang udah jadi milik aku. Walaupun hanya
tunangan. Thanks God....
* end *