cerpen dua : KETIKA AJAL MENJEMPUT  

Posted by b i a n

“ Tulilit…..Tulilit…….Tulilit “ Nokia ku berbunyi, membangunkan aku dari tidur lelapku semalem. Pertanda ada telepon tu, dari siapa ya pagi-pagi gini??
“ Halo “ kataku sambil berusaha membuka mataku yang masih ke lem oleh kotoran mata tentunya.
” Halo juga. Lo, kamu baru bangun?? Hari ini kan ada ulangan jam pertama. Lekas ke sekolah gih ” kata si penelepon yang ternyata itu Bara, sahabatku sampai sekarang. Kemana-mana kami selalu berdua. Kata orang kami kayak gay. Tapi perkataan itu nggak kami dengerin. Yang pasti kami masih normal.
” Ya ” kataku yang kemudian menutup telepon itu.
Sesegera mungkin aku mandi dan langsung berangkat ke sekolah dengan Blade item ku. 120 km/jam menjadi kecepatanku, biar aku sampai sekolah nggak telat. Kalau sampai telat, bakalan di marahi abis-abisan aku ma guru kimiaku yang terkenal killer itu. Dan yang pasti aku harus ikut ulangan susulan. Daripada itu terjadi, lebih baik aku ngebut. Semoga aja aku bisa mengejar waktu 15 menit untuk sampai di sekolah.
Huahh, syukur deh. Alhamdulillah, aku sampai di sekolah lebih cepet dari perkiraanku. Langsung aja aku menuju kantin, beli makan, paling enggak perutku terisi sebelum masuk sekolah.
” Heh Bro ” seseorang pegang bahuku, Bara ternyata.
” Kamu sob ” kataku.
” Udah belajar belum?? Katanya kelas lain, ulangannya susah lho ”
” Udah dikit. Kan ada kamu, sahabatku ” ucapku yang kemudian tertawa. Biasanya kalau ada ulangankan, aku selalu memanfaatkan Bara. Dia kan pinter, nggak ada salahnya donk??
Beberapa menit kemudian, bel masuk memanggil. Padahal soto yang aku pesan masih banyak. Yaudah lah, mau apa lagi. Aku dan Bara bergegas ke kelas dan meninggalkan semangkok soto yang tadi aku pesan. Selain killer guru kimiaku ini juga sangat menghargai waktu. Nggak pernah deh telat lebih dari 5 menit, selalu ontime. Jadi, daripada kena semprot aku tinggalin aja soto ku.
” Semua buku masukkan. Silahkan absen 1 sampai 20 ulangan duluan. Dan 21 sampai 40 keluar untuk ulangan nanti jam kedua ” kata guruku. Gawat ne, aku kan absen 24, berarti aku nggak bareng ulangannya ma Bara. Bara kan absen 5. Nggak biasanya ulangan kimia di bagi jadi 2. Tapi yaudah lah. Terima aja, dan siap-siap aja buat dapat nilai buruk.

* * *

“ Hadu, susah banget ulangannya. Bakalan dapat nilai jelek aku. Dan yang pasti, bokap nyokapku akan marah juga ” kataku pada Bara saat di kantin yang sedang dipenuhi khalayak.
” Makanya, aku tadi kan udah bilang. Kamu sih yang nggak mau dengerin omonganku ” ucap Bara.
Tiba-tiba sesosok makhluk manis nan cantik datang menghampiri meja kami. Itulah Reta, cewek yang udah 2 tahun aku pacarin. Sungguh-sungguh cantik dia. Aku beruntung dia memilih aku untuk jadi pacarnya. Walaupun banyak perbedaan kami yang rasanya sangat berlawanan. Salah satunya, aku bodoh dan dia pinter, buktinya semester lalu dia meraih juara umum. Bara aja kalah. Tapi apalah aku ini, nilai semester juga pas-pasan, nilai ulangan kadang baik kadang jelek. Namun semua itu sirna dan nggak pernah jadi masalah buat kami. Kami selalu menerima apa adanya.
” Hei, Marloku. Hei, Bar ” kata Reta sambil tersenyum manis.
” Hei, Sayang ” kataku.
” Hei, Ta. Daripada aku ganggu, lebih baik aku pergi aja dari sini. Aku ke kelas dulu ya ” ucap Bara yang kemudian pergi dari kantin.
” Lo, aku mau ngomong ” katanya.
” Ngomong aja ”
” Akhir tahun ajaran ini aku akan pergi ”
” Pergi kemana?? ” kataku yang masih merasa tenang.
” Aku akan tinggal dengan orang tuaku di Eropa ”
” Cuma selama liburan aja kan?? Nggak masalah ”
” Aku bakalan kuliah di sana ” katanya yang kemudian meninggalkan aku di kantin.
Aku kaget ketika mendengar kata-kata itu dari mulut Reta. Apa aku mimpi?? Nggak mungkin, ini jelas-jelas nyata. Kata-kata itu sungguh memasung syarafku. Pernah aku ngomong ma Reta, aku nggak kuat kalau harus long distance. Kenapa dia tega mau ninggalin aku?? Padahal akhir tahun ajaran ini kan kurang 1 bulan lagi. Jadi, hanya dalam waktu 1 bulan ke depan aku bersama dia?? Mana tahan aku. Dan nggak mungkin kalau aku harus putus sama dia. Aku sayang banget sama dia. Apa yang harus aku lakukan?? Apalagi Reta nggak jelasin kenapa dia akan tinggal di sana??
Tak selang beberapa saat, bel tanda masuk mengantarkan aku menuju kelasku. Sampai pulang sekolah aku nggak konsen mengikuti pelajaran hanya memikirkan Reta akan pergi.

* * *

Pagi yang indah, hari yang cerah, namu pusing menghinggapi kepala ku. Pasti gara-gara aku memikirkan Reta. Walaupun pusing, tapi aku harus tetap sekolah. Aku nggak mau nyia-nyiain sedetikpun waktu untuk tidak ketemu Reta. Kalau ada kesempatan buat ketemu, ngapain nggak aku gunain??
” Lo, kenapa kamu?? ” tanya Bara yang melihatku lemas saat di kelas.
” Enggak apa kok. Aku baik-baik aja ” jawabku.
” Nggak mungkin. Sob, muka kamu tu pucet ”
” Aku nggak papa ”
Mataku semakin rabun. Kenapa sih aku ini??
Saat aku membuka mataku, aku berada di UKS dan hanya ada Bara di situ.
” Bandel aja kamu. Aku bilang apa, muka kamu pucet, nggak mungkin kalau kamu nggak kenapa-napa. Barusan kamu pingsan ” ucap Bara.
” Apa?? Aku pingsan?? ” kagetku.
” Ya ”
” Reta nggak kesini?? ” tanyaku.
” Reta?? Bukannya hari ini Reta nggak masuk?? Masak kamu nggak tau?? ”
” Jadi Reta nggak masuk?? Kenapa ya?? ” Heranku
Kenapa tiba-tiba Reta nggak masuk?? Padahal kemarin dia masih sehat wal’afiat. Tadi malem pun, dia ngucapin ‘Good Night’ ma aku, walaupun cuma lewat SMS aja. Kenapa ya dia?? Daripada penasaran aku telepon aja dia. Kali aja dia sakit.
“ Halo “ katanya.
“ Kamu sakit?? “
“ Nggak. Hari ini aku ada seleksi buat beasiswa. Kali aja aku dapat. Kalau dapat kan, orang tua aku nggak perlu susah-susah biayain aku sekolah di Eropa ”
” Ya udah lah. Sukses ya. Love u ” kataku.
” Ya. Love U  Too 
Ternyata Reta memang nggak masuk sekolah. Ngapain aku tadi maksain buat sekolah?? Sia-sia aja, toh aku nggak bisa ketemu Reta. Mending di rumah, tidur. Tanpa aku sadari, hidung pesek ku ngluarin darah. Masak segede ini aku masih mimisan?? Sampai pulang sekolah darah dari hidungku nggak berhenti-berhenti. Dan sesampainya di rumah, aku membaringkan badanku dan langsung aja memejamkan mataku. Adzan magrib membangunkanku. Syukur Alhamdulillah darah dari hidungku berhenti. Malam hari waktu aku dengerin Yasika FM, hidungku kembali mengeluarkan darah. Gawat ne kalau sampai orang tuaku tau. Langsung aja aku tidur dan berdoa supaya besok pagi darah ini bisa berhenti. Kenapa ya, akhir-akhir ne hidungku keluar darah terus?? Apa aku periksain aja ke dokter?? Ia udah lah, besok siang aku ke rumah sakit aja buat periksa.

* * *

Siang ini, aku harus ke dokter buat periksa. Pergi sendiri aja. Kalau ngajak orang lain, takutnya ngrepotin.
Akhirnya keluar juga hasilnya. Kali ini aku di sarankan dokter buat periksa darah. Semoga sih aku nggak papa. Aku berharap untuk itu.
” Bagaimana, dok?? ” tanyaku ketika dokter menerima hasil pemeriksaan darahku.
” Maaf, di hasil pemeriksaan darah anda, anda menderita kanker darah atau leukimia stadium akhir. Dan waktu anda tidak akan lama lagi ” kata dokter yang membuat aku takut akan kematian.
Nggak mungkin aku menderita kanker darah. Selama ini aku sehat-sehat aja, kenapa tiba-tiba ada penyakit kanker darah yang bersarang di tubuhku?? Apa yang harus aku lakukan?? Apa aku harus memberitau semua keluarga dan kerabat dekatku?? Nggak mungkin, aku nggak mau buat mereka ikut cemas memikirkan aku. Saat itu juga, aku mengambil keputusan untuk diam soal penyakitku ini. Nggak ada seorangpun yang boleh tau, entah itu keluarga, sahabat bahkan Reta aja nggak boleh tau.
Dengan muka kucel dan air mata yang belum kering, aku pulang ke rumah. Sampai rumah, sudah ada Bara yang menunggu. Ooh ya, hari ini kan aku janji sama dia buat nganter dia ketemuan dengan sahabatnya. Mereka kenal lewat facebook. Belum pernah sekalipun mereka bertemu. Hanya lewat fb atau facebook aja mereka curhat-curhatan dan sesekali PDKT. Katanya dalam fb, dia cewek dan punya nama panggilan Fylla. Sekali aku melihat foto dia di dalam Sony Ericson Bara. Semoga aja dia memang bener-bener cantik kayak di foto. Sore ini, Bara dan Fylla janjian di cafe tama. Mereka berdua sepakat buat pakai baju berwarna hijau dengan bawahan yang berwarna item.
Sampai di cafe, ternyata ada seorang cewek berambut panjang memakai baju hijau dan bawahan item. Pasti dia orangnya.
“ Ya udah. Aku tunggu di sini, kamu hampirin tu cewek. Sukses bro “ kataku yang berusaha ceria.
“ Oke deh ” ucap Bara.
Akhirnya Bara menghampiri tu cewek. Kelihatan akrab mereka. 2 jam berlalu, Bara mengajak Fylla untuk kenalan denganku. Ternyata foto di dalem HP Bara itu nyata. Fylla memang cantik. Bahkan aku bilang sangat cantik. Tapi masih banyakan Reta.
” Fyll, ini Marlo, sahabat aku. Lo, ini Fylla yang selalu aku critain itu” kata Bara yang ngenalin aku sama Fylla.
” Hai, Marlo ” ucap Fylla.
” Hai juga, Fyll. Salam kenal ya ” ujarku.
Dengan hati yang belum puas buat ketemuan sama Fylla, Bara dan aku pulang. Tapi udah mending, daripada belum pernah ketemuan sama sekali.
” Gimana, Lo?? Cantik nggak menurutmu?? ” tanya Bara sambil menyetir Jazz nya.
” Lumayan, tapi buat aku masih cantikan Reta ” jawabku sambil tertawa.
” Kapan ya aku harus nembak dia?? ” tanya Bara lagi.
” Secepatnya. Jangan sia-siain kesempatan ”

* * *


Di kelas, aku merasa pusing. Rasanya aku mau pingsan lagi. Tiba-tiba Bara datang dengan muka ceria. Kenapa tu orang??
” Bro ” katanya.
” Kenapa?? Baru dapat kiriman duit dari bonyok ?? ” tanyaku keheranan, soalnya nggak biasanya Bara datang dengan muka seceria itu.
” Bukan. Lo, aku jadian sama Fylla ” jawabnya.
” Selamat, sob. Kapan?? ”
” Tadi malam, aku telepon dia. Dan tanpa aku sangka dia nrima aku “
” Jadi, kita bisa double date kan kalau jalan?? ” tanyaku.
” Ya ”
Ringtone HP Bara berbunyi, mengganggu obrolan kami aja. Bara pergi dan Reta datang menghampiriku.
” Lo ”
” Reta ”
” Kamu sakit?? ” tanya Reta.
” Enggak kok. Tenang aja. Gimana kemarin seleksinya?? ”
” Aku nggak dapat . . . ” katanya sambil menundukkan kepalanya.
” Yaudah, nggak papa. Mungkin itu bukan buat kamu ”
” Maksud aku, aku nggak dapat peringkat 2. Aku dapat peringkat 1. Otomatis aku dapat beasiswa itu ” ujarnya dengan girang dan membuatku tersenyum lebar.
” Tepatnya kapan kamu mau ke Eropa?? ”
” Habis ulangan umum. Tapi nunggu hasilnya dulu. Kenapa?? ”
” Apa nggak bisa tahun depan?? ”
” Nggak lah. Orang tua aku udah mengharapkan aku dan kami sepakat akhir tahun ajaran ini aku pergi ke sana ”
Jadi, positive sudah. 1 bulan lagi aku harus berpisah dengannya. Sepertinya, kami nggak akan bertemu lagi. Penyakitku semakin hari semakin parah. Dan nggak mungkin aku harus nunggu Reta.

* * *

” Sob, kamu ada di mana?? ” tanyaku setelah Bara mengangkat teleponku.
” Sorry ya Marlo. Bara lagi sibuk. Dan maaf, Bara sekarang buat aku ” jawabnya, tapi sepertinya itu suara cewek. Pasti Fylla, sampai segitunya Fylla melarang aku buat ngomong sama Bara.
Aku butuh banget temen cerita. Reta nggak mungkin jadi pendengarnya, kan yang akan aku critain ini soal Reta. Bara sekarang lebih mentingin Fylla. Sama siapa aku harus cerita??

* * *

Pulang sekolah aku melihat Bara. Langsung aja aku hampirin dia. Tapi sayangnya, Bara buru-buru. Dan aku ragu Bara akan mau dengerin ceritaku.
” Bar, aku mau crita ” kataku.
” Sorry, sob. Aku udah telat setengah jam. Aku mau jemput Fylla dulu ya ” kata Bara yang kemudian meninggalkan aku.
Huh, Bara aja sekarang udah nggak pernah mau dengerin cerita aku. Aku seneng Bara jadian sama Fylla, tapi rasanya Fylla sangat mengekangnya. Apa Bara benar-benar bahagia dengan Fylla?? Atau Bara hanya pura-pura bahagia?? Semoga aja Bara memang benar-benar bahagia dengan Fylla. Kalau Bara seneng otomatis aku juga akan seneng. Walaupun aku harus kehilangan sahabat baik aku yang selama ini udah aku anggap sebagai adik aku. Lagipula aku udah janji, sebelum ajal datang padaku, aku akan buat semua orang di samping aku bahagia. Sejak saat itu aku pergi ke Rumah Sakit buat berobat dan terapi.

* * *

5 hari sudah aku menginap di Rumah Sakit. 5 hari juga aku nggak masuk sekolah. Semoga aja teman-temanku nggak khawatir. Bonyokku udah tau, jadi mereka memaksaku buat berobat. Tapi selama 5 hari aku terapi, belum ada kamajuan juga. Akhir minggu ini, aku diajak orang tuaku pergi ke Singapura buat terapi lebih lanjut. Walaupun orang tuaku sangat memaksaku, tapi aku memilih buat tinggal di sini. Aku nggak mau meninggal di negara orang. Aku mau meninggal di negaraku sendiri, Indonesia.
Hari ini aku putuskan masuk sekolah,setelah kemarin sore aku pulang dari Rumah Sakit. Aku ingin melihat semua wajah teman-temanku, termasuk Reta dan Bara.
” Marlo ” kata Reta sambil meneteskan air mata dan kemudiam memeluk tubuhku sewaktu bertemu denganku di depan kelasku.
” Reta ” kataku.
” Kamu sakit separah ini, kenapa kamu nggak beritau aku?? ”
” Aku nggak mau kamu ikutan sedih. Lebih baik aku aja yang menderita ”
“ Aku akan selalu sayang sama kamu. Sekarang aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu. Aku akan bilang sama orang tuaku, aku akan batalin beasiswa itu. Jadi, aku nggak akan pergi ke Eropa ” ujarnya.
” Nggak perlu, Ta ”
” Enggak, aku akan ngedampingin kamu ”
” Ya, Lo. Aku juga. Sorry ya kalau kemarin-kemarin aku lebih mentingin Fylla daripada kamu. Dan sekarang aku juga akan ada di samping kamu. Fylla udah aku putusin, buat apa cewek seperti itu. Aku nggak mau di kekang sama dia ” ujar Bara sambil menangis yang tiba-tiba datang menghampiriku dan Reta.

* * *

Malam ini aku berencana ngundang Bara dan Reta untuk datang ke rumahku. Nggak tau kenapa malam ini aku ingin banget ngeliat wajah mereka.
” Lo ” sapa mereka yang datang bareng dengan air mata yang masih ada di pipi mereka. Tapi aku tetep salut, walaupun ada air mata tapi masih ada senyum di wajah mereka.
” Makasih ya kalian udah mau datang ke rumahku ” kataku sambil tersenyum.
Langsung aku ajak dinner mereka sama orang tuaku. Setelah dinner, Reta mengajak aku buat melihat bintang di taman. Sampai di sana, aku dan Reta duduk di sebuah bangku yang terbuat dari semen.
” Ta ” kataku.
” Ya, Lo. Kenapa?? ” tanya dia sambil menangis.
” Kamu kenapa?? Aku nggak mau liat kamu sedih ” ucapku sambil menghapus beberapa tetesan air mata di pipinya.
” Makasih, Lo ” katanya yang kemudian menaruh kepalanya di bahuku.
” Aku yang seharusya berterima kasih. Kamu udah setia ma aku “
“ Lo, tiap aku pacaran aku selalu berjanji sama diri aku sendiri. Aku bakalan sayang sama pacar aku, walaupun ada rintangan yang memisahkan. Tapi aku selalu sayang sama pacar aku itu. Nggak beda sama kamu. Kamu juga selalu aku sayang dalam suka atau duka. Aku trima kamu apa adanya. Aku sayang sama kamu, Lo ” katanya.
Setelah aku mendengar itu aku nggak ngrasain apa-apa. Hanya gelap gulita yang aku liat. Tak ada sedikitpun bunyi yang terdengar di telingaku. Mulutku sulit buat di gerakkan dan dada rasanya seperti diikat kencang oleh seutas tali. Apa ini yang namanya ajal??

* end *

This entry was posted on Sabtu, 20 Agustus 2011 at 07.35 . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 komentar

Posting Komentar