cerpen empat : CINTA OM JOKO  

Posted by b i a n

Cinta Om Joko

Joko Suyono, itu nama om ku. Aku hanya tinggal dengannya di rumah sederhana ini. Orang tuaku pergi tak tahu kemana. Om Joko adalah adik dari ibuku. Sejak kecil aku dirawat oleh om ku, Om Joko, panggilan untuk om ku. Kita tinggal di kawasan perumahan sederhana pula. Di sini hanya beberapa rumah yang bergenre ‘gedong’. Secara mayoritas semua rumah yang ada di sini adalah rumah sederhana. Om Joko bekerja sebagai pegawai suatu perusahaan. Ia sudah bekerja di perusahaan itu selama 5 tahun. Sebelumnya ia hanya seorang pedagang asongan yang berkeliling stasiun atau terminal. Tapi, sejak 5 tahun lalu, sejak ia menolong seorang kakek renta, ia dipekerjakan diperusahaan kakek itu. Om Joko lulusan adalah lulusan sarjana sejak 7 tahun yang lalu. Sekarang ia berusia 29 tahun. Sampai saat ini belum ada seorang wanita pun yang pernah dikenalkan dia padaku. Tak tahu karena dia tidak normal atau emang tidak laku-laku. Tahu ah urusan pribadinya. Sekarang yang jelas dia sudah aku anggap sebagai om sekaligus orang tuaku.
Hari ini adalah tanggal 1, awal bulan. Ini berarti bahwa hari ini adalah hari gajian di kantor Om Joko. Hari ini sekolahku libur jadi Om Joko mengajakku untuk ikut ke kantornya. Sekali-kali Om Joko ingin mengajakku pergi jalan-jalan. Kita menuju kantor menggunakan bajaj. Bajaj adalah kendaraan termurah menurut Om Joko. Aku hanya menurut saja. Aku tidak pernah menentang apa yang diputuskan Om Joko. Aku tak mau kalau membuat Om Joko sedih gara-gara sikapku. Aku harus bertahan dengan semua keadaan ini. Aku terlalu sayang dengan Om Joko. Sebagai rasa terimkasihku terhadap dia, aku harus menghormati dia.
“ Om, ntar kalau dimarahi sama bos om gimana?? “ tanyaku yang khawatir dengan apa yang terjadi nanti. Aku masih berusia 6 tahun. Biasanya anak-anak tidak boleh memasuki wilayah kerja seperti itu.
“ Tidak mungkin. Bos om baik kok. Kalau kamu tidak mengganggu kerjaan para pegawai, kamu tidak mungkin dimarahi “ ujar Om Joko.
Selama 30 menit bertahan di dalam bajaj, akhirnya sampai di kantor Om Joko. Kantor ini begitu luas. Aku merasa ini adalah gedung paling besar yang pernah aku lihat. Om Joko mengajakku masuk. Sebelumnya, ia membelikanku makanan ringan, biar aku tidak rewel nanti di dalam.
“ Nah, sekarang kamu duduk di sini aja. Meja om di situ, nanti kalau kamu butuh om kamu ke situ aja “ kata Om Joko yang meninggalkanku di sofa dekat dengan meja kerjanya.
“ Baik, Om “ ucapku.
Aku duduk di sofa ini. Sambil memakan permen lolipop yang tadi dibelikan Om Joko. Tiba-tiba ada seorang wanita dewasa yang cantik. Dia menghampiriku. Wanita ini mungkin adalah teman kerja Om Joko.
“ Kamu siapa?? Kok bisa ada di kantor ini?? “ tanya wanita itu.
“ Aku Sila, tante “ jawabku.
“ Anak yang manis “ katanya.
“ Makasih, tante “
Wanita ini kira-kira lebih muda daripada Om Joko. Terpancar dari wajahnya yang kira-kira berusia 20 tahunan. Wanita ini mengajakku untuk pergi ke ruangannya. Daripada aku bosan di sofa ini sendirian, mending aku ikut wanita itu.
“ Kamu ke sini sama siapa?? “ tanya tante itu ketika masuk ke dalam ruangannya. Ruangan wanita itu lumayan besar. Di situ dia hanya sendiri. Tidak seperti ruang kerja Om Joko. Sudah ruangannya kecil, ditambah penghuninya yang banyak, lebih dari 5 orang.
“ Aku di ajak Om ku untuk ikut ke kantornya. Nama tante siapa?? “ kataku.
“ Kenalin, namaku Karin. Panggil aja Tante Karin. Om kamu namanya siapa?? “ tanyanya lagi.
Aku merasa betah dengan Tante Karin. Tak tahu kenapa, biasanya kalau aku ketemu seseorang yang baru aku kenal, aku tak sebegitu akarabnya.
“ Namanya Om Joko, Tante. Dia kerja di sini juga “ kataku.
“ Kamu keponakannya?? “
“ Iya, Tante. Tapi dia udah aku anggap sebagai orang tua aku sendiri “
“ Memang orang tua kamu di mana?? “
“ Kata Om Joko, orang tuaku pergi ke luar negeri buat bekerja. Mereka berangkat sewaktu aku masih kecil “
Tante Karin memelukku. Aku merasa sangat nyaman saat dalam pelukannya. Aku merasa aku pernah merasakan pelukan sehangat ini. Mungkin karena aku tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Aku berada di ruangan itu cukup lama. Sampai aku tertidur sebentar.
“ Tante, aku keluar dulu. Takutnya nanti Om Joko nyariin aku “ kataku, pamit.
“ Biar tante antar “
Aku diantar Tante Karin keluar dari ruangan itu dan menemui Om Joko di ruangannya. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ternyata Om Joko telah mencariku sejak tadi.
“ Kamu sudah om bilang, jangan sampai kamu pergi dari sofa itu “ kata Om Joko yang mulai marah denganku.
“ Maaf, Om. Aku nggak tahu kalau Om Joko nyariin aku “ kataku, menjelaskan.
“ Om khawatir sama kamu, Sila. Kamu itu udah dititipin sama orang tua kamu. Kalau kamu hilang, gimana nanti om ngomong sama orang tua kamu “ kata Om Joko sambil memegang pipiku dan dia mulai meneteskan air mata. Baru kali ini aku melihat Om Joko menangis. Sebelumnya, aku tak pernah melihat Om Joko seperti ini. Aku sangat merasa bersalah dengan ini semua.
“ Ini bukan salah Sila. Tadi saya yang mengajak dia untuk masuk ke ruangan saya. Mungkin Sila terlalu nyaman, makanya tadi Sila sempet tertidur. Saya tidak berani kalau harus membangunkan dia “ kata Tante Karin, menjelaskan.
“ Tapi, Bu. Seharusnya dia bisa pamit dengan saya “ ucap Om Joko.
“ Iya, sekarang Sila udah ada di sini jadi kamu jangan marah dengan dia lagi “ ujar Tante Karin, “ Ya udah, saya kembali ke ruangan dulu. “
Om Joko terlihat sangat sedih dengan kejadian tadi. Aku hanya bisa minta maaf dengannya dan berjanji untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi.

***

Sore hari, sepulang dari kantor, aku dan Om Joko menghadang kendaraan di depan kantor. Beberapa lama kami berdiri di sini, tidak ada kendaraan umum yang lewat. Akhirnya, ada sebuah mobil yang berhenti di depan kami. Mobil itu sangat mewah. Ternyata itu adalah mobil Tante Karin.
“ Mari masuk. Biar saya antar pulang “ kata Tante Karin setelah membuka jendela mobilnya.
“ Tidak usah, Bu. Biar kami menunggu angkot aja “ ucap Om Joko.
“ Lihat itu Sila, dia udah capek seharian ada di kantor. Kamu nggak kasihan sama dia?? “
Setelah melihatku yang memang terlihat capek, Om Joko setuju untuk menumpang mobil Tante Karin.
“ Terima kasih, Bu, udah memberi tumpangan “ kata Om Joko.
“ Kalau di luar kantor, jangan kamu panggil saya ibu. Panggil saya Karin aja, seperti dulu sewaktu kuliah “ ucap Tante Karin.
“ Aku nggak enak kalau manggil kamu seperti itu. Kamu itu adalah bos aku. “
“ Aku emang bos mu kalau di dalam kantor. Sekarang kita  berada di luar kantor. Jadi, lebih baik kalau kamu memanggilku dengan panggilan Karin “
Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sepertinya Om Joko dan Tante Karin pernah kenal dulu sewaktu kuliah. Selama perjalanan mereka sepertinya membicarakan masa lalu mereka. Aku hanya mendengar kalau Tante Karin adalah mantan pacar Om Joko dulu. Sekarang, Om Joko masih sayang dengan Tante Karin. Tetapi perasaan itu tak mungkin tersampaikan karena sekarang posisinya Tante Karin adalah atasan Om Joko.
Sampai di rumah aku langsung tidur di ranjang kecilku. Aku merasa lelah dengan kegiatan hari ini. Aku hanya berharap besok akan lebih baik lagi.

***

Sore ini aku bersiap untuk makan malam. Nanti malam, aku diajak Om Joko untuk pergi menemui kakek renta yang dulu di tolong Om Joko. Kakek itu mengundang Om Joko dan aku untuk makan malam di suatu restoran yang mewah.
“ Selamat malam, Joko “ kata kakek itu menyalami Om Joko, “ Halo, manis, “ sapa kakek itu terhadapku.
“ Selamat malam, Pak “ ucap Om Joko.
“ Joko, saya ingin menjodohkan kamu dengan anak saya. Bagaimana dengan kamu?? Saya tahu kalau kamu sedang mencari jodoh “ kata kakek itu.
“ Tapi, Pak. Saya tidak kenal dengan anak bapak “ kata Om Joko.
“ Siapa bilang kamu belum kenal sama dia?? “ ucap kakek itu, “ Karina, “
Tiba-tiba keluar seorang wanita anggun. Wanita itu adalah Tante Karin, teman kerja Om Joko. Ternyata, Tante Karin adalah anak dari kakek itu dan ternyata Tante Karin adalah wanita yang dijodohkan untuk Om Joko. Aku melihat kegembiraan yang sangat dalam diraut muka Om Joko. Aku tahu kalau Om Joko juga masih sayang dengan Tante Karin. Perasaan yang dulu ada ketika kuliah masih dipertahankan sampai sekarang. Itu karena kesetiaannya dengan satu wanita yang sangat ia sayangi. Selama beberapa tahun, Om Joko memendam perasaan itu ternyata baru sekarang perasaan itu tersampaikan.


*end*

This entry was posted on Kamis, 12 Desember 2013 at 06.01 . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 komentar

Posting Komentar