Cinta
Om Joko
Joko
Suyono, itu nama om ku. Aku hanya tinggal dengannya di rumah sederhana ini.
Orang tuaku pergi tak tahu kemana. Om Joko adalah adik dari ibuku. Sejak kecil
aku dirawat oleh om ku, Om Joko, panggilan untuk om ku. Kita tinggal di kawasan
perumahan sederhana pula. Di sini hanya beberapa rumah yang bergenre ‘gedong’.
Secara mayoritas semua rumah yang ada di sini adalah rumah sederhana. Om Joko
bekerja sebagai pegawai suatu perusahaan. Ia sudah bekerja di perusahaan itu
selama 5 tahun. Sebelumnya ia hanya seorang pedagang asongan yang berkeliling
stasiun atau terminal. Tapi, sejak 5 tahun lalu, sejak ia menolong seorang
kakek renta, ia dipekerjakan diperusahaan kakek itu. Om Joko lulusan adalah
lulusan sarjana sejak 7 tahun yang lalu. Sekarang ia berusia 29 tahun. Sampai
saat ini belum ada seorang wanita pun yang pernah dikenalkan dia padaku. Tak
tahu karena dia tidak normal atau emang tidak laku-laku. Tahu ah urusan
pribadinya. Sekarang yang jelas dia sudah aku anggap sebagai om sekaligus orang
tuaku.
Hari
ini adalah tanggal 1, awal bulan. Ini berarti bahwa hari ini adalah hari gajian
di kantor Om Joko. Hari ini sekolahku libur jadi Om Joko mengajakku untuk ikut
ke kantornya. Sekali-kali Om Joko ingin mengajakku pergi jalan-jalan. Kita
menuju kantor menggunakan bajaj. Bajaj adalah kendaraan termurah menurut Om
Joko. Aku hanya menurut saja. Aku tidak pernah menentang apa yang diputuskan Om
Joko. Aku tak mau kalau membuat Om Joko sedih gara-gara sikapku. Aku harus
bertahan dengan semua keadaan ini. Aku terlalu sayang dengan Om Joko. Sebagai
rasa terimkasihku terhadap dia, aku harus menghormati dia.
“
Om, ntar kalau dimarahi sama bos om gimana?? “ tanyaku yang khawatir dengan apa
yang terjadi nanti. Aku masih berusia 6 tahun. Biasanya anak-anak tidak boleh
memasuki wilayah kerja seperti itu.
“
Tidak mungkin. Bos om baik kok. Kalau kamu tidak mengganggu kerjaan para
pegawai, kamu tidak mungkin dimarahi “ ujar Om Joko.
Selama
30 menit bertahan di dalam bajaj, akhirnya sampai di kantor Om Joko. Kantor ini
begitu luas. Aku merasa ini adalah gedung paling besar yang pernah aku lihat.
Om Joko mengajakku masuk. Sebelumnya, ia membelikanku makanan ringan, biar aku
tidak rewel nanti di dalam.
“
Nah, sekarang kamu duduk di sini aja. Meja om di situ, nanti kalau kamu butuh
om kamu ke situ aja “ kata Om Joko yang meninggalkanku di sofa dekat dengan
meja kerjanya.
“
Baik, Om “ ucapku.
Aku
duduk di sofa ini. Sambil memakan permen lolipop yang tadi dibelikan Om Joko.
Tiba-tiba ada seorang wanita dewasa yang cantik. Dia menghampiriku. Wanita ini
mungkin adalah teman kerja Om Joko.
“
Kamu siapa?? Kok bisa ada di kantor ini?? “ tanya wanita itu.
“
Aku Sila, tante “ jawabku.
“
Anak yang manis “ katanya.
“
Makasih, tante “
Wanita
ini kira-kira lebih muda daripada Om Joko. Terpancar dari wajahnya yang
kira-kira berusia 20 tahunan. Wanita ini mengajakku untuk pergi ke ruangannya.
Daripada aku bosan di sofa ini sendirian, mending aku ikut wanita itu.
“
Kamu ke sini sama siapa?? “ tanya tante itu ketika masuk ke dalam ruangannya.
Ruangan wanita itu lumayan besar. Di situ dia hanya sendiri. Tidak seperti
ruang kerja Om Joko. Sudah ruangannya kecil, ditambah penghuninya yang banyak,
lebih dari 5 orang.
“
Aku di ajak Om ku untuk ikut ke kantornya. Nama tante siapa?? “ kataku.
“
Kenalin, namaku Karin. Panggil aja Tante Karin. Om kamu namanya siapa?? “
tanyanya lagi.
Aku
merasa betah dengan Tante Karin. Tak tahu kenapa, biasanya kalau aku ketemu
seseorang yang baru aku kenal, aku tak sebegitu akarabnya.
“
Namanya Om Joko, Tante. Dia kerja di sini juga “ kataku.
“
Kamu keponakannya?? “
“
Iya, Tante. Tapi dia udah aku anggap sebagai orang tua aku sendiri “
“
Memang orang tua kamu di mana?? “
“
Kata Om Joko, orang tuaku pergi ke luar negeri buat bekerja. Mereka berangkat
sewaktu aku masih kecil “
Tante
Karin memelukku. Aku merasa sangat nyaman saat dalam pelukannya. Aku merasa aku
pernah merasakan pelukan sehangat ini. Mungkin karena aku tak pernah
mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Aku berada di ruangan itu cukup lama.
Sampai aku tertidur sebentar.
“
Tante, aku keluar dulu. Takutnya nanti Om Joko nyariin aku “ kataku, pamit.
“
Biar tante antar “
Aku
diantar Tante Karin keluar dari ruangan itu dan menemui Om Joko di ruangannya.
Aku tak tahu apa yang terjadi. Ternyata Om Joko telah mencariku sejak tadi.
“
Kamu sudah om bilang, jangan sampai kamu pergi dari sofa itu “ kata Om Joko
yang mulai marah denganku.
“
Maaf, Om. Aku nggak tahu kalau Om Joko nyariin aku “ kataku, menjelaskan.
“
Om khawatir sama kamu, Sila. Kamu itu udah dititipin sama orang tua kamu. Kalau
kamu hilang, gimana nanti om ngomong sama orang tua kamu “ kata Om Joko sambil
memegang pipiku dan dia mulai meneteskan air mata. Baru kali ini aku melihat Om
Joko menangis. Sebelumnya, aku tak pernah melihat Om Joko seperti ini. Aku
sangat merasa bersalah dengan ini semua.
“
Ini bukan salah Sila. Tadi saya yang mengajak dia untuk masuk ke ruangan saya.
Mungkin Sila terlalu nyaman, makanya tadi Sila sempet tertidur. Saya tidak
berani kalau harus membangunkan dia “ kata Tante Karin, menjelaskan.
“
Tapi, Bu. Seharusnya dia bisa pamit dengan saya “ ucap Om Joko.
“
Iya, sekarang Sila udah ada di sini jadi kamu jangan marah dengan dia lagi “
ujar Tante Karin, “ Ya udah, saya kembali ke ruangan dulu. “
Om
Joko terlihat sangat sedih dengan kejadian tadi. Aku hanya bisa minta maaf
dengannya dan berjanji untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi.
***
Sore
hari, sepulang dari kantor, aku dan Om Joko menghadang kendaraan di depan
kantor. Beberapa lama kami berdiri di sini, tidak ada kendaraan umum yang
lewat. Akhirnya, ada sebuah mobil yang berhenti di depan kami. Mobil itu sangat
mewah. Ternyata itu adalah mobil Tante Karin.
“
Mari masuk. Biar saya antar pulang “ kata Tante Karin setelah membuka jendela
mobilnya.
“
Tidak usah, Bu. Biar kami menunggu angkot aja “ ucap Om Joko.
“
Lihat itu Sila, dia udah capek seharian ada di kantor. Kamu nggak kasihan sama
dia?? “
Setelah
melihatku yang memang terlihat capek, Om Joko setuju untuk menumpang mobil
Tante Karin.
“
Terima kasih, Bu, udah memberi tumpangan “ kata Om Joko.
“
Kalau di luar kantor, jangan kamu panggil saya ibu. Panggil saya Karin aja,
seperti dulu sewaktu kuliah “ ucap Tante Karin.
“
Aku nggak enak kalau manggil kamu seperti itu. Kamu itu adalah bos aku. “
“
Aku emang bos mu kalau di dalam kantor. Sekarang kita berada di luar kantor. Jadi, lebih baik kalau
kamu memanggilku dengan panggilan Karin “
Aku
tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sepertinya Om Joko dan Tante Karin
pernah kenal dulu sewaktu kuliah. Selama perjalanan mereka sepertinya
membicarakan masa lalu mereka. Aku hanya mendengar kalau Tante Karin adalah
mantan pacar Om Joko dulu. Sekarang, Om Joko masih sayang dengan Tante Karin.
Tetapi perasaan itu tak mungkin tersampaikan karena sekarang posisinya Tante
Karin adalah atasan Om Joko.
Sampai
di rumah aku langsung tidur di ranjang kecilku. Aku merasa lelah dengan
kegiatan hari ini. Aku hanya berharap besok akan lebih baik lagi.
***
Sore
ini aku bersiap untuk makan malam. Nanti malam, aku diajak Om Joko untuk pergi
menemui kakek renta yang dulu di tolong Om Joko. Kakek itu mengundang Om Joko
dan aku untuk makan malam di suatu restoran yang mewah.
“
Selamat malam, Joko “ kata kakek itu menyalami Om Joko, “ Halo, manis, “ sapa
kakek itu terhadapku.
“
Selamat malam, Pak “ ucap Om Joko.
“
Joko, saya ingin menjodohkan kamu dengan anak saya. Bagaimana dengan kamu??
Saya tahu kalau kamu sedang mencari jodoh “ kata kakek itu.
“
Tapi, Pak. Saya tidak kenal dengan anak bapak “ kata Om Joko.
“
Siapa bilang kamu belum kenal sama dia?? “ ucap kakek itu, “ Karina, “
Tiba-tiba
keluar seorang wanita anggun. Wanita itu adalah Tante Karin, teman kerja Om
Joko. Ternyata, Tante Karin adalah anak dari kakek itu dan ternyata Tante Karin
adalah wanita yang dijodohkan untuk Om Joko. Aku melihat kegembiraan yang
sangat dalam diraut muka Om Joko. Aku tahu kalau Om Joko juga masih sayang
dengan Tante Karin. Perasaan yang dulu ada ketika kuliah masih dipertahankan
sampai sekarang. Itu karena kesetiaannya dengan satu wanita yang sangat ia
sayangi. Selama beberapa tahun, Om Joko memendam perasaan itu ternyata baru
sekarang perasaan itu tersampaikan.
*end*
This entry was posted
on Kamis, 12 Desember 2013
at 06.01
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
